Harga minyak mentah WTI rontok 2,62% ke US$85,41 per barel pada perdagangan Jumat (12/6), sementara Brent tergerus 2,48% ke US$88,14, setelah spekulasi tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mengalir deras ke pasar. Sekilas, ini kabar baik. Tapi bagi siapa pun yang mencermati lanskap energi lebih dalam, ketenangan ini terasa seperti jeda, bukan resolusi.
Sudah lebih dari 100 hari sejak pecahnya konflik Teluk ketiga. Pasar minyak global, anehnya, berperilaku jauh lebih kalem dari yang semua orang perkirakan. Ketika serangan baru antara Iran dan Israel kembali mengguncang gencatan yang rapuh awal pekan ini, Brent cuma naik sekitar 1%. Padahal Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 15 juta barel per hari, masih tertutup. Hampir tidak masuk akal bahwa pasar bisa setampan ini.
Ada tiga pilar yang selama ini bekerja keras di belakang layar: penurunan konsumsi global, lonjakan produksi dari Brasil dan Venezuela, serta pengurasan masif Strategic Petroleum Reserves (SPR) oleh 32 negara anggota IEA. Maret lalu, IEA melepas 400 juta barel dari stok pemerintah secara kolektif, rekor terbesar dalam sejarah organisasi. Hampir separuh volume itu sudah mengalir ke pasar dengan laju 2,5-3 juta barel per hari.
Masalahnya, ruang gerak ketiga pilar itu kini menyempit bersamaan.
China memangkas impor sekitar 5 juta barel per hari dibanding sebelum perang. Negara lain mengikuti lewat berbagai kebijakan penghematan. Penurunan permintaan ini membantu menstabilkan harga, tapi semakin sulit dipertahankan ketika musim panas di belahan bumi utara segera mendongkrak konsumsi bahan bakar. Pertanyaannya: berapa lama penghematan bisa dipaksakan sebelum masyarakat dan industri kembali ke pola normal?
Jepang jadi contoh paling gamblang betapa cepatnya bantalan cadangan bisa terkuras. Tokyo, yang pada awal konflik bergantung sekitar 90% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, termasuk yang paling agresif melepas stok, bahkan sebelum keputusan resmi IEA diumumkan. Dari alokasi sekitar 90 juta barel, sebagian besar sudah disalurkan ke kilang-kilang domestik. Laju distribusi Jepang sudah turun dari lebih dari 1 juta barel per hari menjadi sekitar 600 ribu barel per hari bulan lalu. Kini pemerintah Tokyo berhitung ulang, enggan menguras sisa cadangan yang masih sedikit di atas batas minimum IEA sebesar 90 hari konsumsi.
Amerika Serikat menghadapi situasi yang agaknya lebih pelik. SPR Amerika memasuki perang ini sudah dalam kondisi babak belur, akibat pelepasan besar-besaran pada 2022-2023 pasca invasi Rusia ke Ukraina. Volume cadangan kini berada di level terendah sejak dekade 1980-an. Washington bahkan beralih ke skema pinjaman minyak, mewajibkan perusahaan mengembalikan volume yang diambil ditambah premi 17-26% pada periode 2027-2029. Hasilnya tidak menggembirakan: dari empat lelang yang digelar, tiga gagal terserap penuh, menyisakan sekitar 45 juta barel yang belum menemukan pembeli.
Belum lagi kendala teknis. Sebagian besar cadangan AS tersimpan di gua-gua garam bawah tanah di Texas dan Louisiana. Semakin tipis volumenya, semakin besar risiko kerusakan fasilitas. Lokasi Bayou Choctaw dilaporkan hampir kosong, sementara kapasitas pipa membatasi laju pemompaan di fasilitas lain. Secara regulasi, SPR Amerika juga punya batas minimum 150 juta barel yang tidak bisa dilanggar. Tegasnya: ruang sudah sempit, dan lantainya sudah kelihatan.
Morgan Stanley memproyeksikan pelepasan cadangan IEA bisa anjlok dari 2,5 juta barel per hari pada Juni menjadi hanya 700 ribu barel per hari pada Juli. Selisihnya hampir 2 juta barel per hari yang harus ditambal dari sumber mana pun yang tersedia.
Eropa, yang selama ini relatif santai karena tidak terlalu bergantung pada minyak Teluk Persia, bisa jadi penyelamat berikutnya, kalau data ini bisa dipercaya. Tapi cadangan Eropa berbentuk produk olahan seperti bensin dan diesel, tersebar di tangki-tangki komersial yang disewa pemerintah. Banyak analis meragukan seberapa besar volume itu benar-benar bisa mengalir ke pasar secara efisien. Eropa selama ini menikmati manfaat dari pelepasan stok negara lain tanpa banyak berkontribusi. Ketika gilirannya tiba, tantangan logistik yang belum pernah diuji dalam skala ini jadi tanda tanya yang tidak kecil.
Stok komersial global diproyeksikan mendekati batas operasional minimum pada September. Setelah itu, China jadi kartu terakhir yang bisa dimainkan. Beijing punya cadangan yang cukup untuk bertahan berbulan-bulan, tapi menguras stok saat konflik belum usai berarti memperkecil bantalan untuk guncangan berikutnya. Ibarat pedang bermata dua: setiap barel yang keluar dari gudang harus diisi ulang ketika perang mereda, menciptakan gelombang permintaan baru yang bisa menahan harga energi tetap tinggi jauh lebih lama dari yang diantisipasi pelaku pasar.
Jadi ya, harga minyak hari ini memang turun. Gas alam malah naik tipis 0,19% ke US$3,09 per MMBtu setelah tertekan lebih dari 3% sehari sebelumnya. Tapi investor yang memposisikan portofolio energinya semata berdasarkan sentimen damai AS-Iran mungkin sedang mengabaikan risiko yang jauh lebih fundamental: tameng global untuk meredam guncangan pasokan kian tipis, dan tidak ada yang tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan.