Pemimpin Hizbullah Naim Qassem, Senin (27/4), mengeluarkan pernyataan keras menolak rencana negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel. "Kami secara tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel, dan mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon atau diri mereka sendiri," kata Qassem, dikutip AFP. Ia menyerukan pejabat Lebanon untuk "mundur dari dosa besar mereka yang menempatkan Lebanon dalam lingkaran ketidakstabilan".
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tiga minggu, melanjutkan jeda 10 hari awal yang dimulai 17 April. Trump menyatakan optimismenya soal perdamaian Lebanon-Israel, termasuk membuka kemungkinan negosiasi langsung antara keduanya. Disambut langsung dengan penolakan.
Bukan main.
Di lapangan, eskalasi terus terjadi meski status gencatan senjata masih berlaku secara formal. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 14 warga sipil tewas dalam serangan Israel di wilayah selatan pada hari Minggu, hari paling mematikan sejak gencatan diberlakukan. Israel juga melaporkan satu tentaranya gugur dalam pertempuran di Lebanon selatan. Koresponden AFP mencatat kemacetan panjang di jalur menuju utara karena ribuan warga memilih angkat kaki setelah peringatan serangan meningkat.
Netanyahu berdalih ketentuan gencatan senjata memberi Israel kebebasan bertindak, bukan sekadar membalas serangan. "Serangan yang direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung," sebut Netanyahu dalam rapat kabinet mingguan, sambil menuding Hizbullah telah "menghancurkan gencatan senjata". Artinya, kata Netanyahu, Israel bebas mencegah ancaman yang bahkan baru berpotensi muncul. Hizbullah punya versi berbeda.
Sentimen di akar rumput agaknya sejalan dengan posisi keras kelompok itu. Lebih dari satu juta warga Lebanon masih terkatung-katung di kamp-kamp pengungsian, belum bisa pulang ke selatan. Mohammed al-Zein, salah seorang pengungsi, blak-blakan soal gencatan senjata: "Saya tidak merasakan apa pun saat gencatan senjata diumumkan. Selama kami tidak kembali ke kampung halaman, tidak ada yang penting."
Izdihar Yassin (58) lebih lugas. "Mereka pembohong. Mereka membunuh tiga orang kemarin. Kami ingin anak-anak kami aman. Jika Israel terus melanggar gencatan senjata, kami akan tetap di sini," ujarnya. Mohammad Awwad (38) bahkan menolak keras ide negosiasi apapun. "Kami menolak perdamaian, kami menolak segala bentuk normalisasi dengan Israel," tegasnya. Mereka membunuh kami, kata Awwad, lalu minta kami bernegosiasi.
Konflik ini bermula 2 Maret ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. Israel membalas dengan serangan udara dan invasi darat, dan sejak saat itu Lebanon terseret ke dalam pusaran yang lebih luas.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang sebetulnya masih percaya gencatan senjata ini punya masa depan?