RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Houthi Klaim Jizan Membara, Siklus Serangan Saudi-...

Internasional

Houthi Klaim Jizan Membara, Siklus Serangan Saudi-Yaman Kembali Berputar

Ketegangan Arab Saudi-Houthi meledak jadi saling serang terbuka: Saudi hajar pangkalan angkatan laut di Hodeidah, Houthi balas dengan rudal yang diklaim membakar kota Jizan.

Houthi akan balas Arab Saudi atas serangan di Hodeidah

Perang di Timur Tengah punya front baru yang mulai panas lagi. Houthi mengklaim telah menghajar kota Jizan di pesisir Laut Merah selatan Arab Saudi dengan serangan rudal pada Sabtu (25/7/2026), hanya beberapa jam setelah bersumpah membalas serangan udara koalisi pimpinan Riyadh yang menghantam Provinsi Hodeidah sehari sebelumnya.

Saudi belum mengomentari klaim itu. Tapi badan pertahanan sipil Riyadh sempat mengeluarkan peringatan kepada warga di Jizan dan Yanbu pada Sabtu pagi soal "potensi bahaya" sebelum peringatan itu dicabut beberapa menit kemudian. Pola klasik: peringatan serupa memang biasa muncul ketika rudal atau drone masuk ke wilayah kerajaan.

Serangan Saudi pada Jumat (24/7) menyasar pangkalan angkatan laut di kota pelabuhan Hodeida dan kamp militer di Pulau Kamaran. Turki al-Maliki, juru bicara koalisi Saudi, menyebut operasi itu sebagai respons tegas atas serangan Houthi terhadap dua kapal dagang Saudi di Laut Merah awal pekan ini. "Militer Houthi yang teroris menargetkan kapal-kapal dagang di Laut Merah," tulis al-Maliki di platform X. Koalisi, lanjutnya, telah "menghancurkan target yang mengancam pelayaran" dan respons militer dinyatakan selesai.

Houthi punya versi lain. Media Ansarollah milik kelompok tersebut menuding Saudi membidik infrastruktur sipil, bukan fasilitas tempur. Dua orang terluka: seorang pekerja di gedung telekomunikasi Kota Hodeida dan seorang perempuan di Pulau Kamaran. "Penargetan fasilitas sipil oleh musuh Saudi di Hodeida dan Pulau Kamaran adalah eskalasi yang berbahaya," tulis Ansarollah di Telegram. "Kami menegaskan bahwa kejahatan ini tidak akan dibiarkan begitu saja."

Sikap saling klaim semacam ini, jujur saja, bukan hal baru dalam konflik Yaman. Yang membedakannya kali ini: konteks regionalnya sudah jauh berbeda. Eskalasi terjadi setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, yang secara efektif memperluas teater perang ke seluruh kawasan. Houthi, yang bersekutu dengan Teheran dan telah menguasai wilayah utara Yaman sejak 2014, kini bukan sekadar merepotkan jalur pelayaran global. Mereka secara terbuka membenturkan diri dengan Arab Saudi sebagai lawan langsung.

Pertanyaannya: seberapa jauh Riyadh mau mendorong eskalasi ini? Gencatan senjata 2022 yang selama ini menahan laju konflik kini berada di ujung tanduk. Konflik Yaman sendiri sudah menelan ratusan ribu korban jiwa dalam lebih dari satu dekade. Blokade maritim yang diumumkan Houthi terhadap kapal-kapal Saudi bisa jadi babak baru yang jauh lebih mahal ongkosnya, bukan cuma bagi Riyadh, tapi bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada jalur pelayaran di Laut Merah.