RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Houthi Serang Tanker Saudi, Militer AS Terseret ke...

Internasional

Houthi Serang Tanker Saudi, Militer AS Terseret ke Dua Front Sekaligus

Kelompok Ansarullah (Houthi) menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah sekaligus memberlakukan blokade maritim, sementara pejabat AS mengakui militer Washington sudah terlalu terbebani untuk membuka front baru.

Timur Tengah Makin Chaos! Houthi Rudal 2 Kapal Tanker Saudi

Dua kapal tanker minyak Arab Saudi terbakar di Laut Merah pada Rabu (22/7) setelah dihantam rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang diluncurkan kelompok Ansarullah Yaman. Serangan ini bukan eskalasi biasa. Ia datang bersamaan dengan pengumuman blokade maritim penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi, yang berpotensi memotong sekitar tujuh persen pasokan minyak dunia.

Juru bicara militer Ansarullah, Yahya Saree, mengonfirmasi pihaknya menargetkan kapal tanker bernama Encelia dan Layla karena keduanya dianggap melanggar keputusan blokade yang diberlakukan sejak 20 Juli. Saudi Press Agency mengonfirmasi serangan terhadap Encelia, sementara Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan setidaknya satu tanker mengalami kebakaran yang tengah dipadamkan awak kapal. Seluruh kru selamat.

Latar blokade ini panjang dan berlapis. Ansarullah murka setelah pemerintah Yaman pro-Saudi mengebom bandara Sanaa pada 13 Juli, saat pesawat Iran yang mengangkut pejabat Houthi hendak mendarat untuk menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Riyadh langsung dituding sebagai dalangnya. Blokade laut yang kemudian diberlakukan, menurut jurnalis berbasis Sanaa Al Bukhaiti, bertujuan memaksa Riyadh mencabut embargo yang sudah menghimpit pelabuhan dan bandara di wilayah kendali Houthi hampir 12 tahun lamanya.

Bagi Washington, ini yang bikin pusing. Presiden Donald Trump meremehkan ancaman ini di depan publik, bilang Amerika sudah pernah menghadapi Houthi sebelumnya dan pasti bisa mengatasinya. Di balik layar, nadanya berbeda.

Mantan pejabat senior Pentagon, Jason Campbell, terang-terangan menyebut militer AS kini harus membagi sumber daya ke dua front aktif sekaligus: Teluk Persia untuk operasi terhadap Iran, dan perairan Yaman untuk menghadapi Ansarullah. "Anda harus membagi sumber daya yang kuat tetapi terbatas di kawasan ke dua front aktif," ujar Campbell, yang kini menjadi peneliti di Middle East Institute. Mengalihkan kapal perang ke Yaman, lanjutnya, berisiko mengurangi fleksibilitas operasi AS terhadap Iran sekaligus memperbesar exposure terhadap rudal dan drone Ansarullah.

Seorang pejabat AS bahkan mengakui blak-blakan: kondisi operasional saat ini sudah sangat padat. Sejumlah kapal perang Amerika disebut menjalani penugasan jauh melampaui jadwal normal, memicu kelelahan awak dan mempercepat kebutuhan perawatan armada. Dalam kurun yang sama, Mantan Deputi Asisten Menteri Pertahanan Michael Mulroy menambahkan bahwa baik kampanye udara era Biden maupun operasi yang diperluas Trump gagal melumpuhkan kemampuan Ansarullah mengancam jalur pelayaran internasional. Bukan catatan kecil.

Pertanyaannya, sampai kapan armada ini bisa bertahan di ritme seperti ini?

Analis CSIS Mark Cancian memperingatkan bahwa pembukaan front baru di Laut Merah akan memperburuk masalah lama Pentagon: stok amunisi menipis, rudal pencegat pertahanan udara semakin langka. Bukan cuma soal jumlah kapal perang, tapi soal daya tahan operasi dalam konflik yang tidak punya tanggal selesai.

Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, Laut Merah praktis menjadi urat nadi ekspor energi Saudi, dengan sekitar 4,5 juta barel minyak mengalir melalui Pipa Timur-Barat setiap harinya. Blokade yang efektif di jalur ini bukan hanya pukulan bagi Riyadh. Pasar energi global yang tengah memantau eskalasi ini agaknya sudah tahu jawabannya, tapi masih menunggu konfirmasi dari lapangan.