Dua tahun lalu, minta layar AMOLED di HP sejutaan itu seperti minta AC di warung kopi. Sekarang konsumen bisa dapat refresh rate 120-144Hz, chipset 5G, RAM 8GB, bahkan wireless charging, semuanya di bawah Rp2,5 juta. Persaingan di kelas harga ini pada Juni 2026 agaknya sudah mencapai titik yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Untuk segmen gaming, dua nama paling sering disebut adalah Tecno Pova 7 5G dan Nubia Neo 3 5G. Tecno Pova 7 5G datang dengan chipset Dimensity T7300 Ultimate yang skor benchmarknya cukup bikin kaget untuk kelas harga Rp2 jutaan. Layar 144Hz, baterai 6.000 mAh dengan fast charging 45W, dan, ini yang langka, wireless charging yang hampir tidak pernah ditemukan di segmen ini. Tapi tunggu dulu: sumber yang ada menyebut chipset Nubia Neo 3 5G adalah Unisoc T8300 5G, bukan Dimensity. Nubia bermain di sudut berbeda lewat shoulder trigger fisik bawaan, kontrol game FPS yang terasa seperti pakai gamepad sungguhan, dipadukan AI Game Space untuk menstabilkan performa saat sesi panjang.
Di kelas satu jutaan, Infinix Hot 50 Pro Plus layak jadi perhatian. Chipset MediaTek Helio G99 di rentang harga ini bukan hal biasa. Layar AMOLED 120Hz-nya responsif, dan storage UFS 2.2 membuat loading game lebih cepat dibanding kompetitor yang masih mengandalkan eMMC. Satu catatan: bodi tipis plus sesi gaming panjang bisa bikin suhu naik, terutama di ruangan pengap.
Poco M6 tetap pilihan solid untuk performa mentah dengan sistem pendingin yang lebih serius. Throttling-nya relatif minim. Tapi jangan harap banyak dari sektor kamera, terutama kondisi malam. Itel RS4 menawarkan RAM jumbo di kelasnya, meski layar masih HD+, agak ketinggalan dibanding panel FHD+ kompetitor. Bukan cacat fatal, entah kebetulan atau tidak, resolusi lebih rendah justru bikin perangkat lebih hemat daya.
Buat yang butuh smartphone allrounder, Poco M7 Pro 5G masuk kandidat kuat di kisaran Rp2 jutaan. AMOLED 120Hz, Dimensity 7025 Ultra, sensor Sony dengan OIS di kamera utama. Nyaris tanpa kelemahan serius untuk kelasnya. Redmi Note 13 pun masih relevan, layar AMOLED-nya sulit ditandingi kompetitor di harga serupa, cocok untuk streaming dan scrolling marathon.
Soal baterai, Motorola Moto G57 Power 5G membawa kapasitas 7.000 mAh dengan Snapdragon 6s Gen 4 yang efisien. Di atas kertas, dua hari penggunaan normal bukan omong kosong. Redmi 15 varian 8GB punya klaim serupa dengan baterai 7.000 mAh di harga Rp2,3 jutaan. Kalau terbukti di penggunaan riil, lumayan menggiurkan. Infinix HOT 70 juga masuk daftar: 6.000 mAh plus fast charging 45W, kombinasi masuk akal untuk pengguna yang sering lupa ngecas.
Budget sangat ketat di bawah Rp1,5 juta? POCO C71 dan Infinix Hot 40i masih cukup bisa diandalkan untuk Mobile Legends dan Free Fire di setting menengah. Kamera depan 32MP milik Hot 40i jadi nilai jual tersendiri buat yang rajin bikin konten. Tecno Spark 20C patut dipertimbangkan kalau speaker stereo di harga Rp1,2 jutaan terdengar menarik, karena memang itu salah satu yang terbaik di segmennya.
Produsen seperti Tecno, Infinix, Poco, dan Redmi saling sikut menawarkan spesifikasi yang setahun lalu masih eksklusif di kelas Rp3-4 jutaan. Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah HP sejutaan bisa gaming?" tapi "fitur mana yang rela dikompromikan?"
Jawaban itu bergantung sepenuhnya pada kebiasaan pakai. Gamer yang sering mabar berjam-jam: lirik baterai dan sistem pendingin dulu. Pengguna kasual yang lebih sering buka TikTok dan WhatsApp bisa lebih fleksibel soal itu. Yang jelas, era HP murah dengan spek nanggung sudah tamat.