Pasar smartphone 2026 sedang belah diri ke dua arah, dan keduanya sama-sama menarik dicermati.
Produsen berlomba menghadirkan HP khusus anak dengan fitur keamanan berlapis, merespons kekhawatiran orang tua terhadap bahaya internet tanpa filter. Tapi di ujung yang berbeda, merek-merek seperti Infinix, Realme, dan Xiaomi justru menggempur segmen pelajar dengan RAM besar dan harga yang, jujur saja, sulit ditolak. Dua segmen, dua filosofi yang berlawanan, satu benang merah: anak-anak dan remaja jadi rebutan utama industri ponsel tahun ini.
Dalam kategori HP anak, dua nama paling sering disebut adalah Bark Phone dan Gabb. Pendekatan keduanya bertolak belakang, meski sama-sama menyasar orang tua yang ingin menarik rem pada akses digital anak-anak mereka.
Bark Phone, yang dibangun di atas hardware Samsung Galaxy, memilih jalur pemantauan aktif. Sistemnya memindai teks, email, foto, hingga aplikasi secara terus-menerus, mencari sinyal awal cyberbullying, grooming, konten seksual, bahkan indikasi pikiran bunuh diri. Orang tua mendapat peringatan real-time bila ada yang mencurigakan. Bukan sekadar blokir-dan-lupakan. Ini pengawasan yang berjalan diam-diam di latar belakang, setiap saat.
Fitur "gradual unlock" Bark juga layak disorot. Akses web, aplikasi, dan fitur lainnya bisa dibuka secara bertahap seiring usia anak bertambah, alih-alih serba bebas atau serba dikunci dari awal. Harganya $240 untuk perangkat, plus langganan mulai $29 per bulan.
Gabb mengambil jalan yang lebih radikal. Alih-alih memantau, Gabb memilih eliminasi total. Tidak ada browser, tidak ada media sosial, tidak ada toko aplikasi. Yang tersisa hanya panggilan, SMS, kamera, kalender, kalkulator, dan layanan streaming musik yang sudah dikurasi ketat. Sederhana? Ya. Tapi itulah poinnya. Orang tua yang tidak mau repot mengawasi bisa memilih Gabb dan membiarkan perangkat yang bekerja sebagai penyaring pertama. Harga mulai $159,99 untuk perangkat, dengan paket seluler dari $24,99 per bulan.
Lompat ke segmen yang sama sekali berbeda: pelajar SMP dan SMA Indonesia kini disuguhi pilihan yang makin memanjakan. RAM 8GB, yang dua tahun lalu masih jadi "fitur kelas menengah", sudah bisa dikantongi dengan budget Rp2,5 juta. Infinix Hot 60 Pro hadir dengan layar AMOLED 6,78 inci refresh rate 144Hz dan baterai 5.160 mAh di kisaran harga itu. Xiaomi Redmi 15C 4G menawarkan angka serupa, bahkan dengan opsi virtual RAM yang bisa diperluas hingga 16GB. Masif.
Realme C85 Pro masuk sedikit lebih tinggi, sekitar Rp2,9 jutaan, tapi tetap dalam jangkauan uang saku yang wajar. Bagi yang anggarannya lebih ketat, Redmi 13X disebut bisa diperoleh di bawah Rp2 juta dengan RAM 8GB. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, sulit dibantah.
Tapi RAM besar bukan satu-satunya pertimbangan. Untuk pelajar yang sering membuka banyak tab sekaligus, video call, dan sesekali main game, chipset yang sepadan jadi krusial. MediaTek Helio G-Series atau Snapdragon kelas menengah ke bawah jadi tolok ukur yang cukup realistis di harga segini. Baterai minimal 5.000 mAh pun bukan kemewahan, melainkan keharusan agar ponsel tahan dari pagi sekolah sampai malam belajar.
Pertanyaannya, apakah dua tren ini akan bertemu di satu titik? HP anak yang makin canggih dari sisi hardware, bertemu dengan HP pelajar yang makin ketat dikontrol orang tua lewat aplikasi parental control bawaan. Agaknya bukan skenario yang mustahil. Produsen tinggal menunggu mana yang lebih dulu jadi standar pasar, dan ibarat pedang bermata dua, siapa pun yang menang di sini akan menentukan bagaimana generasi berikutnya pertama kali mengenal dunia digital.