RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Huawei Berterima Kasih ke AS: Larangan Chip Justru...

Bisnis

Huawei Berterima Kasih ke AS: Larangan Chip Justru Lahirkan Raksasa Semikonduktor China

Chairman Huawei Liang Hua menyatakan terima kasih kepada Washington atas kebijakan pembatasan ekspor chip, mengklaim sanksi AS justru menjadi katalis kemandirian industri semikonduktor China.

Huawei Berterima Kasih ke AS, Larangan Chip Bikin China Makin Mandiri

Tujuh tahun sejak Washington pertama kali memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam, raksasa teknologi China itu kini berbalik mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat. Bukan sindiran, bukan retorika politik semata, melainkan pernyataan yang disampaikan langsung oleh Chairman Huawei Liang Hua dalam sebuah forum industri baru-baru ini.

Liang menyebut kontrol ekspor AS sebagai katalis utama yang memaksa perusahaan-perusahaan China untuk berdiri di atas kaki sendiri. Investasi riset dan pengembangan melonjak, rantai pasok teknologi dibangun dari nol, ketergantungan pada komponen Barat dipangkas secara sistematis. "Pembatasan ekspor dari AS memaksa industri China makin mandiri pada inovasi dan pengembangan teknologi inti," tegasnya, sebagaimana dikutip dari Tom's Hardware, Sabtu (6/6/2026).

Konteks pernyataan ini penting. Sejak 2019, Washington secara bertahap mengetatkan cengkeramannya: melarang Huawei mengakses chip canggih, perangkat lunak desain semikonduktor, hingga peralatan manufaktur buatan Barat. Dampaknya waktu itu telak. Lini smartphone Huawei kehilangan akses ke layanan Google, pengiriman perangkat global anjlok drastis, dan ekosistem bisnis mereka terancam runtuh.

Namun yang terjadi kemudian, agaknya, di luar kalkulasi Washington.

Alih-alih menyerah, Huawei memilih jalur yang lebih panjang dan jauh lebih mahal. Hasilnya kini mulai terlihat. Smartphone premium mereka kembali hadir dengan chip rancangan domestik. HarmonyOS berkembang menjadi ekosistem yang makin serius. Penggunaan komponen lokal diperluas ke hampir seluruh lini produk. Transformasi yang dulu terasa mustahil dalam waktu singkat itu, bisa jadi, sedang menjadi kenyataan.

Fenomena Huawei bukan kasus tunggal. Pemerintah China dan sektor swasta sama-sama menggelontorkan dana besar untuk membangun industri chip dari hulu ke hilir, mulai dari desain, manufaktur, sistem operasi, sampai peralatan produksi. Tekanan eksternal, secara paradoks, menciptakan urgensi yang tidak bisa dihasilkan oleh kebijakan industri mana pun.

Pertanyaannya, berapa banyak dari ini yang sudah diantisipasi Washington sejak awal?

AS berdalih semua pembatasan ini soal keamanan nasional, mencegah teknologi canggih mengalir ke program militer China. Argumen yang secara teknis sulit dibantah. Tapi kalau ujungnya adalah industri semikonduktor China yang justru semakin kompetitif dan mandiri, setidaknya itu yang diklaim manajemen Huawei, maka efektivitas kebijakan ini layak dipertanyakan ulang.

Liang sendiri tidak menutup mata terhadap kenyataan di lapangan. Ia mengakui industri chip China masih terbentur dinding tebal, terutama di segmen manufaktur dengan process node paling canggih. Tapi nadanya jauh dari khawatir. Ia melihat trajektori yang jelas, laju perkembangan teknologi domestik yang, menurutnya, terus membaik.

Masif. Dan belum berhenti.

Persaingan semikonduktor dan AI antara dua raksasa ekonomi ini bisa jadi baru memasuki babak yang paling sengit. Entah kebetulan atau tidak, Huawei sedang memposisikan dirinya bukan sebagai korban perang dagang, melainkan sebagai bukti hidup bahwa tekanan bisa diubah menjadi bahan bakar.