RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Market  ›  IHSG Amblas 4,57% Sehari: Fitch Pangkas Outlook, A...

Market

IHSG Amblas 4,57% Sehari: Fitch Pangkas Outlook, Asia Porak-poranda

IHSG sempat terjun bebas hingga 5,6% di intraday sebelum ditutup melemah 4,57% ke 7.577. Kombinasi gejolak geopolitik Timur Tengah dan downgrade outlook kredit Indonesia oleh Fitch menjadi pemberat ganda yang sulit dilawan pasar.

Rabu (4/3) akan dikenang sebagai salah satu hari terberat IHSG dalam beberapa tahun terakhir. Indeks sempat terjun 5,6% di sesi intraday sebelum akhirnya ditutup di level 7.577,1, melemah 4,57%. Dari 910 saham yang diperdagangkan, hanya 54 yang parkir di zona hijau. Sisanya merah semua.

Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang tekanan terbesar dari sisi market cap, disusul Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Bumi Resources Minerals (BRMS).

Asia hari itu porak-poranda. Kospi Korea amblas 12% dan sempat di-halt 20 menit akibat likuidasi masif saham-saham berkaitan AI. SET Thailand tidak jauh berbeda, terkoreksi 8,6% sebelum perdagangan dihentikan selama 30 menit. Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong masing-masing melemah 3,6% dan 2%, terseret outflow dari sektor semikonduktor. Pemicunya seragam: eskalasi konflik Iran-Israel-AS yang membuat investor global memilih kabur dulu, tanya kemudian.

Tapi buat Indonesia, ada beban tambahan.

Fitch Ratings resmi merevisi outlook sovereign credit Indonesia dari 'stable' menjadi 'negative', meski rating BBB dipertahankan. Lembaga pemeringkat itu menyebut meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan terkikisnya konsistensi bauran kebijakan sebagai dasar keputusan. Kabar ini sebetulnya sudah tercium sejak sesi pertama lewat rumor yang berputar di kalangan pelaku pasar. Konfirmasi resminya bak menyiramkan bensin ke bara yang sudah menyala.

Fitch bukan yang pertama. Moody's lebih dulu melakukan langkah serupa pada Februari 2026, sementara S&P Global sudah memperingatkan tekanan fiskal tanpa merevisi rating. Tiga lembaga pemeringkat sekaligus melambaikan bendera kuning. Sinyal yang berat.

Rupiah tertekan 0,17% ke level 16.885 per dolar AS. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 6,9 basis poin ke 6,61%. Net foreign outflow hari itu tercatat Rp117,9 miliar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap menyesuaikan belanja, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis hingga Rp100 triliun, demi menjaga defisit tetap di bawah ambang 3% PDB. Hitung-hitungannya begini: APBN 2026 diasumsikan harga minyak di US$70 per barel, sementara Brent sudah merangkak ke US$81,4 dan sempat menyentuh US$85,1 pada Selasa (3/3). Itu level tertinggi sejak Juli 2024. Kalau minyak naik ke kisaran US$90-92 tanpa penyesuaian, defisit fiskal bisa menembus 3,6% PDB. Angka yang serius.

Sebagai net importir minyak, Indonesia memang berada di posisi yang tidak nyaman ketika harga energi melonjak. Timur Tengah menyumbang sekitar 20-25% impor minyak dan 30% impor LPG Indonesia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah berencana meningkatkan impor minyak dari AS untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah, sekaligus mengerek kapasitas stok BBM dari 26 hari menjadi 90 hari.

Penyeimbang potensial? Harga komoditas ekspor. Batu bara masih bertengger di US$134 per ton, minyak sawit mentah di Rp4.180 per kilogram. Selama keduanya solid, tekanan dari sisi impor energi agaknya masih bisa dikompensasi. Tapi kalau konflik berlarut dan harga komoditas ekspor ikut tergerus, kalkulasinya berubah total.

Di luar hiruk-pikuk makro, beberapa aksi korporasi layak dicermati. Medco Energi Internasional (MEDC) merilis guidance produksi 2026 di kisaran 165-170 MBOEPD, naik dari realisasi 2025 di 156 MBOEPD. Level all-time high bagi perseroan. Bank Negara Indonesia (BBNI) memangkas alokasi buyback dari Rp1,5 triliun menjadi sekitar Rp905,5 miliar, dengan pembahasan dijadwalkan dalam RUPST 9 Maret 2026.

Matahari Department Store (LPPF) mengusulkan dividen Rp250 per saham untuk tahun buku 2025, setara dividend yield 13,6% dari harga penutupan hari ini. Di hari seberat ini, yield segitu terasa seperti oase kecil di padang pasir.