RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Rebound, Tapi Jangan Buru-Buru All In

Bisnis

IHSG Rebound, Tapi Jangan Buru-Buru All In

IHSG mulai pulih dari tekanan awal Juni 2026, tapi analis Mirae Asset mengingatkan ini masih didominasi technical rebound. Rupiah dan yield SBN jadi kunci keberlanjutannya.

IHSG Makin Solid, Begini Strategi dan 4 Sektor Saham yang Bisa Dilirik

Dua pekan pertama Juni 2026 jadi mimpi buruk bagi investor domestik. IHSG tertekan dalam, hampir semua sektor kompak merah, dan sentimen pasar seolah tidak punya lantai. Kini indeks mulai bangkit. Pertanyaannya satu: ini awal pemulihan sungguhan, atau sekadar pantulan sesaat?

Mirae Asset Sekuritas cenderung hati-hati menjawabnya. Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi faktor technical rebound, bukan lonjakan yang ditopang perubahan fundamental secara penuh. Meski begitu, ia mengakui ada sinyal yang mulai membaik. "Rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif," ujar Rully, Senin (15/6/2026).

Faktor pemicu koreksinya cukup klasik: rupiah melemah, yield Surat Berharga Negara melonjak, ketidakpastian global naik beberapa level. Kombinasi ini mendorong risk premium Indonesia ke atas, yang otomatis menggerus valuasi saham secara menyeluruh. Untuk pemulihan yang lebih meyakinkan, Rully menyebut dua variabel kritis. Kalau rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun bertahap dari level puncak di atas 7,3%, premi risiko akan menyusut. Ruang bagi aliran modal asing untuk kembali masuk ke pasar obligasi maupun saham pun terbuka.

Soal strategi, masuk sekaligus dengan modal penuh agaknya bukan pilihan yang bijak, meski godaannya memang besar. Dalam fase recovery, perilaku takut ketinggalan kereta kerap muncul. Bisa untung? Bisa saja. Tapi faktor luck-nya tidak kecil, dan risiko koreksi untuk konsolidasi tetap ada. Pendekatan yang lebih terukur adalah lump sum bertahap, frekuensi 3-5 kali masuk, dijadwalkan setiap dua minggu hingga satu bulan sekali, sambil terus memantau perkembangan harga.

Crash dua pekan lalu, kalau mau jujur, menciptakan anomali yang jarang muncul: hampir semua saham salah harga, termasuk yang fundamentalnya solid. Ini membuka peluang akumulasi di saham-saham berkarakter investing, terutama yang kinerjanya masih tumbuh tapi harga pasarnya belum mencerminkan nilai wajar. Saham-saham konglomerat yang pergerakannya lebih volatil? Boleh masuk, tapi porsinya lebih kecil, sekitar 30 persen dari total alokasi. Bukan berarti tidak bisa cuan. Tapi manajemen risikonya memang perlu lebih ketat.

Konfirmasi teknikal saja tidak cukup untuk menyatakan IHSG sudah aman. Sampai bukti stabilisasi rupiah dan penurunan yield SBN datang bukan cuma sebagai euforia sesaat, selektif bukan pengecut. Itu disiplin.