RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Terpeleset Dua Hari Beruntun, Minyak dan Big...

Bisnis

IHSG Terpeleset Dua Hari Beruntun, Minyak dan Big Caps Jadi Biang Kerok

IHSG ditutup melemah 0,30% ke 6.315 pada Kamis (23/7), memperpanjang koreksi menjadi dua hari berturut-turut setelah sebelumnya menguat sembilan sesi tanpa henti.

Penyebab IHSG Balik Arah Hingga Terpeleset di Zona Merah - Market

Reli sembilan hari IHSG akhirnya terganjal juga. Kamis (23/7), Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 19,16 poin atau 0,30% ke posisi 6.315,31, setelah sesaat menyentuh titik terdalam harian di 6.306. Dua sesi merah beruntun, bukan tanda panik, tapi cukup untuk bilang bahwa tekanan jual mulai punya nyali.

Saham-saham berkapitalisasi besar jadi sumber utama tekanan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) termasuk yang paling berat menahan indeks hari itu. Ketika big caps kompak melemah, susah bagi IHSG untuk bertahan di zona hijau. Rentang perdagangan terbilang lebar: dari 6.454 di sesi awal, perlahan terkikis hingga ke bawah 6.310.

Ada faktor lain yang agaknya lebih sistemik. Harga minyak mentah global melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan, dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran. Militer AS dilaporkan melancarkan serangan malam ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Bagi pelaku pasar di seluruh dunia, termasuk di Bursa Efek Indonesia, sinyal semacam ini cukup untuk membuat kalkulasi risiko berubah seketika.

Volume perdagangan justru ramai. Nilai transaksi mencapai Rp23,94 triliun dari 63,31 miliar saham yang berpindah tangan, dengan frekuensi 3,18 juta kali. Bukan gambaran pasar yang sedang panik. Lebih tepat disebut rotasi aktif, di mana pelaku pasar memilah ulang posisi di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian pelik.

Koreksi dua hari ini perlu diletakkan dalam konteks yang lebih adil. Sepanjang pekan berjalan, IHSG masih tercatat naik 3,39%, warisan dari penguatan sembilan hari sebelumnya. Jadi ini bukan ambruk. Ini napas sejenak setelah sprint panjang, kalau data ini bisa dijadikan pegangan.

Yang justru patut diperhatikan adalah angka year-to-date: IHSG masih terperosok 26,96% sejak awal 2026. Reli beberapa pekan terakhir memang menyegarkan, tapi lubang yang harus ditambal masih dalam. Pertanyaannya bukan apakah IHSG bisa lanjut rebound besok. Berapa lama sentimen geopolitik global memberi ruang bagi pasar domestik untuk pulih secara berkelanjutan, itu yang lebih relevan untuk dijawab.