RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IMF: Inflasi AS Sulit Turun, Pertumbuhan Global Di...

Bisnis

IMF: Inflasi AS Sulit Turun, Pertumbuhan Global Dipangkas Akibat Perang Iran

IMF secara resmi akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global sambil memperingatkan inflasi AS butuh waktu lebih lama untuk turun ke target, seiring perang di Timur Tengah yang terus melukai struktur pasar dunia.

Inflasi Amerika Serikat sudah merayap ke 3,3 persen pada Maret 2026, dan angka itu agaknya belum akan segera berbalik arah.

Dana Moneter Internasional memperingatkan target inflasi 2 persen yang sebelumnya diharapkan tercapai pada awal tahun depan kini tertunda tanpa kepastian. Lonjakan harga bensin jadi biang keroknya, mendorong laju inflasi tiga kali lebih cepat dibanding bulan sebelumnya. Perang di Timur Tengah yang menyeret AS, Israel, dan Iran sejak 28 Februari lalu telah mempersulit kalkulasi itu secara fundamental.

"Sekarang itu mungkin sedikit tertunda," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva kepada CBS News dalam wawancara Minggu (12/4).

Tapi persoalannya tidak berhenti di AS.

Sebelum peringatan soal inflasi itu keluar, Georgieva sudah lebih dulu melempar sinyal keras pada Kamis (10/4): IMF akan resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, dan kali ini bukan sekadar revisi teknis rutin. Ia menyebut adanya "efek luka mendalam" pada ekonomi dunia, bahkan dalam skenario paling optimis sekalipun. "Bahkan dalam kasus terbaik sekalipun, tidak akan ada pengembalian yang rapi dan bersih ke status quo ante," tegasnya.

Laporan World Economic Outlook terbaru dijadwalkan rilis Selasa ini. Pasar sudah tahu angkanya tidak akan menyenangkan. Besaran revisi, menurut Georgieva, bergantung pada dua hal: berapa lama konflik berlangsung, dan seberapa cepat produksi minyak serta gas alam bisa pulih. Selat Hormuz yang diblokir Teheran melumpuhkan jalur perdagangan utama dan membuat harga minyak mentah melambung, efeknya merembet ke harga gas, pupuk, dan akhirnya pangan.

Bukan main skalanya.

IMF kini bersiap menyediakan bantuan keuangan darurat antara US$20 miliar (sekitar Rp342 triliun) hingga US$50 miliar (Rp855 triliun) untuk negara-negara yang terdampak. Bank Dunia tidak mau ketinggalan. Presiden Ajay Banga menyatakan lembaganya siap mengucurkan hingga US$25 miliar (Rp428 triliun) dengan cepat, kapasitas jangka panjangnya bisa menyentuh US$60 miliar (Rp1.027 triliun) jika dibutuhkan. Prioritasnya: stabilitas fiskal negara-negara berkembang yang kini berada di ambang kolaps.

Konflik ini tidak memukul semua pihak secara merata. Negara-negara berpenghasilan rendah yang bergantung pada impor energi kena tampar paling keras. Pertumbuhan ekonomi kawasan Timur Tengah di luar Iran diprediksi Bank Dunia amblas ke 1,8 persen pada 2026, terpangkas 2,4 poin persentase dari proyeksi sebelum perang. Setidaknya 45 juta orang kini terancam krisis pangan.

Geogieva bahkan menyinggung nasib negara-negara kepulauan Pasifik yang berada di ujung rantai pasokan. "Coba pikirkan negara-negara kepulauan Pasifik di ujung rantai pasokan yang panjang, yang bertanya-tanya apakah bahan bakar masih bisa sampai ke mereka setelah gangguan parah seperti ini," tuturnya. Dramatis, tapi sulit dibantah, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat gangguan logistik yang sudah berlangsung hampir dua bulan.

Di dalam negeri, dua kapal milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz. Pengingat bahwa eksposur Indonesia terhadap konflik ini bukan sekadar angka di laporan IMF.

Pertanyaannya, kalau skenario "terbaik" IMF saja sudah sesuram ini, bagaimana skenario terburuknya?