Laba bersih PT Niramas Utama Tbk melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam setahun, eh, tunggu. Hapus em dash itu. Dari Rp11,63 miliar naik ke Rp39,03 miliar sepanjang 2025. Yang membikin angka ini menarik: penjualan justru menyusut dua tahun berturut-turut. Bagi investor yang sedang menaksir IPO emiten produk jeli dan nata de coco bermerek INACO ini, kontradiksi itu layak jadi titik awal pembacaan.
Perseroan, yang jauh lebih dikenal lewat merek INACO ketimbang nama resminya PT Niramas Utama, menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per lembar. Harga penawaran dipatok di kisaran Rp900 hingga Rp1.120 per saham. Kalau terserap penuh, dana segar yang masuk ke kas bisa mencapai Rp392 miliar. Saham perdana dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026, dengan PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi.
Jadwalnya padat. Masa penawaran awal berlangsung 15-22 Juni 2026, pernyataan efektif dari OJK ditargetkan 29 Juni, masa penawaran umum dibuka 1-3 Juli, distribusi saham elektronik 6 Juli, pencatatan perdana keesokan harinya.
Soal struktur kepemilikan: IPO ini mendilusi saham publik sebesar 25,93 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum. Sebelum IPO, kepemilikan nyaris tertutup rapat, PT Niramas Utama International menggenggam 99,80 persen, sisanya 0,20 persen milik Sadikun Wiratno. Setelah IPO, Niramas Utama International tetap jadi pengendali dengan porsi 73,92 persen. Pengendali perusahaan, Ham Pak Japyusuf Hamdani, sudah menyatakan komitmen tidak akan melepas status pengendali setidaknya 12 bulan sejak pernyataan pendaftaran efektif.
Lantas, Rp392 miliar itu mau ke mana? Porsi terbesar, 51,04 persen, mengalir ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) dalam bentuk penyertaan modal ekuitas. Dana itu dipakai NPS untuk membeli dan menginstalasi mesin produksi guna menggenjot kapasitas gummy candy dan produk jelly. Segmen yang agaknya jadi andalan pertumbuhan. Sebesar 18,36 persen lagi dialokasikan perseroan sendiri untuk belanja modal, termasuk pengembangan kapasitas gudang dan percepatan sistem logistik.
Sekitar 10,63 persen, atau kurang lebih Rp41,6 miliar, masuk ke pelunasan sebagian utang jangka pendek KMK kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Per 31 Maret 2026, total pokok pinjaman ke Mandiri tercatat Rp94 miliar. Setelah pembayaran dari dana IPO, saldo kewajiban itu diproyeksikan turun ke Rp54 miliar. Sisanya, 19,97 persen, mengalir ke modal kerja untuk bahan baku, operasional, dan pemasaran.
Kembali ke kinerja keuangan. Penjualan INACO memang menyusut: dari Rp838,94 miliar di 2023, tergerus ke Rp788,43 miliar di 2024, lalu amblas lagi ke Rp753,05 miliar di 2025. Tren yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tapi laba bruto justru terkerek dari Rp259,61 miliar ke Rp290,78 miliar, dan laba bersih melesat dari Rp1,68 miliar di 2023 ke Rp39,03 miliar di 2025. Manajemen, kalau data ini bisa dipercaya, berhasil memangkas biaya atau mengerek efisiensi secara serius meski tekanan di sisi penjualan belum mereda. Pertanyaannya, berapa lama pola ini bisa bertahan?
Total aset konsolidasian per 31 Desember 2025 tercatat Rp552,11 miliar, naik dari Rp522,60 miliar setahun sebelumnya. Total liabilitas Rp406,59 miliar versus ekuitas Rp145,52 miliar. Struktur permodalan yang masih berat di sisi utang. ROE tercatat 26,82 persen dan ROA 7,07 persen, dengan current ratio 1,14 kali dan DSCR 2,15 kali.
Satu hal yang biasanya diintip investor ritel: dividen. Setelah go public, INACO berencana membagikan dividen tunai dengan rasio maksimal 30 persen dari laba bersih setelah penyisihan cadangan wajib, dengan pertimbangan kondisi keuangan perusahaan. Bukan jaminan, tapi setidaknya ada sinyal bahwa manajemen tidak berniat menahan semua cuan untuk diri sendiri.