Angka Rp584 triliun itu bukan sekadar statistik. Realisasi investasi di sektor hilirisasi mineral sepanjang 2025 melonjak 43% dibanding tahun sebelumnya, dan nikel ada di jantung pertumbuhannya. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyebut tren ini bukan anomali, melainkan buah dari serangkaian kebijakan hilirisasi yang sudah digelar pemerintah selama beberapa tahun terakhir.
Ketua FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan angka tersebut dalam Indonesia Critical Minerals Conference 2026 di Jakarta, Rabu (3/6). Momentum konferensi itu agaknya dipilih bukan tanpa alasan: bersamaan dengan selebrasi angka, ada suara-suara yang mengingatkan bahwa besar bukan berarti selesai.
Pada kuartal I 2026 saja, investasi hilirisasi sudah menyentuh Rp147,5 triliun. Sektor nikel menyumbang Rp41,5 triliun dari total itu. Ekspor produk turunan nikel pun meledak, dari 3,3 miliar dolar AS pada 2018 menjadi sekitar 34 miliar dolar AS pada 2024. Hampir sepuluh kali lipat dalam satu dekade. Bukan main.
Tapi di sesi lain konferensi yang sama, nada bicaranya berbeda. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia membawa pesan yang lebih senyap namun sama pentingnya: investasi saja tidak cukup. Pasar global, terutama Eropa, semakin menjadikan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sebagai prasyarat masuk, bukan sekadar nilai tambah.
Executive Director NiPERA Chris Schlekat bicara lugas soal ini. "Akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif," katanya. Pernyataan yang terdengar seperti peringatan, dan memang begitulah maksudnya.
Kunjungan lapangan ke Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara pada 1-2 Juni memberi gambaran yang lebih utuh. Provinsi itu bukan titik produksi biasa: Maluku Utara menyuplai sekitar 13-15 persen nikel dunia, mencatat pertumbuhan ekonomi 19,64 persen di kuartal I 2026, dan meraih posisi tertinggi di Indonesia. Komoditas besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik mendominasi 96,65 persen total ekspor daerah.
Co-Head of Responsible Sourcing Glencore Ilse Schoeters tidak menampik kecepatan ekspansi industri nikel Indonesia. "Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat," ujarnya. Tapi ia juga tidak menutup mata: ada perusahaan yang sudah mengintegrasikan ESG ke operasional inti, sementara sebagian lain masih sibuk membangun sistem paling dasarnya.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyuarakan perspektif yang berbeda sudut pandangnya. Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler itu, kata dia, harus benar-benar dirasakan warganya, bukan hanya terbaca di laporan statistik provinsi. Ia mendorong perluasan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan industri, supaya warga lokal bisa mengisi posisi-posisi strategis, bukan cuma jadi penonton di tanah sendiri. Targetnya, transformasi itu tercapai secara bermakna sebelum 2030.
Ovan Tito dari Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia menutup kunjungannya dengan nada yang terasa seperti rapor. Ekosistem industri kelas dunia memang sudah terbentuk, tapi standar keberlanjutan masih terus dikejar. Transparansi dan audit independen, menurut Community Outreach Coordinator IRMA Andre Barahamin, akan jadi penentu seberapa jauh kepercayaan pasar global bisa dibangun.
Investasi mengalir deras. Kapasitas produksi bertumbuh. Pertanyaannya kini bukan soal seberapa besar, melainkan seberapa bersih industri ini bisa beroperasi di hadapan pembeli global yang kian rewel soal asal-usul mineralnya.