RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  iPhone Ultra: Bocoran Dummy Ungkap Ponsel Lipat Ap...

Tekno

iPhone Ultra: Bocoran Dummy Ungkap Ponsel Lipat Apple yang Lebih Dekat ke Tablet

Dummy desain iPhone Ultra bocor dan memperlihatkan perangkat lipat pertama Apple dengan ketebalan 9,23 mm, layar tablet mini, dan kembalinya Touch ID. Jadwal rilis mengarah ke musim gugur 2026 bersama seri iPhone 18.

Sebelum Apple resmi bicara sepatah kata pun, pasar sudah riuh duluan.

Bocoran dummy desain iPhone Ultra, perangkat lipat perdana dari raksasa Cupertino itu, kini beredar lebih luas. Kanal MaxTech yang membagikan video hands-on unit dummy tersebut jadi salah satu sumber paling kredibel sejauh ini, mengingat rekam jejaknya yang cukup akurat dalam menangani model desain awal Apple. Tidak lama berselang, akun leaker Yeux1122 merilis angka lebih spesifik: ketebalan iPhone Ultra saat terlipat tercatat 9,23 mm, lebih ramping dari spekulasi sebelumnya di kisaran 9,6 mm. Tambahkan tonjolan kamera, angkanya naik ke sekitar 13 mm.

Yang bikin kepala menoleh bukan cuma soal dimensi.

Saat dibentangkan, ketebalan perangkat ini menyusut drastis ke angka 5,5 mm. Lebih tipis dari iPhone Air yang dirumorkan setebal 5,6 mm. Layar internalnya, dalam posisi terbuka, bertransformasi jadi sesuatu yang lebih dekat ke iPad mini daripada ponsel biasa. Lebar hampir setara iPhone 17 Pro Max, tapi dimensi vertikal lebih tinggi, sekitar 111,5 mm, dengan bezel yang jauh lebih ramping.

Apple, agaknya, tidak sedang membuat ponsel lipat. Mereka sedang membuat tablet yang bisa dilipat jadi ponsel.

Pendekatan "tablet-first" ini tecermin dari pilihan desain yang tidak konvensional. Bentuk perangkat saat dibuka lebih lebar dan lebih pendek dibanding ponsel lipat bergaya memanjang yang sudah akrab di pasar, semacam Galaxy Z Fold series. Format ini membuka ruang untuk multitasking yang lebih nyaman dan konsumsi media yang lebih imersif. Sinyal jelas bahwa Apple ingin memposisikan perangkat ini sebagai jembatan antara smartphone dan tablet dalam satu bodi, bukan sekadar gimmick layar besar.

Konsekuensinya? Pengguna yang terbiasa mengoperasikan ponsel dengan satu tangan hampir pasti bukan target pasar utama iPhone Ultra.

Perubahan hardware paling mencolok ada di sistem autentikasi. Touch ID kembali, terintegrasi di tombol daya di sisi perangkat. Bukan nostalgia, melainkan solusi pragmatis: Face ID punya keterbatasan pada perangkat lipat karena sudut layar dan kondisi lipatan bisa mengganggu pembacaan wajah. Tombol volume juga berpindah ke sisi atas. Masuk akal untuk penggunaan mode tablet, tapi patut dipertanyakan kenyamanannya saat perangkat dipakai sebagai ponsel.

Camera Control tetap hadir, posisinya digeser lebih rendah. Speaker disusun secara diagonal untuk efek stereo yang lebih seimbang di berbagai orientasi. Satu detail yang belum terjawab: cutout bersih di sisi bodi yang memicu spekulasi soal antena 5G atau, yang lebih menarik, area kontrol sentuh untuk mengurangi ketergantungan pada tombol fisik. Entah kebetulan atau tidak, detail terakhir itu sejalan dengan upaya Apple menghadirkan desain yang lebih rapi dari generasi ke generasi.

Tonjolan kamera di punggung perangkat cukup besar, mirip gaya desain Google Pixel. Apple tampaknya tidak mau mengorbankan kualitas kamera demi kerataan bodi. Pilihan yang konsisten dengan DNA produk mereka, meski secara estetika bakal jadi titik perdebatan.

Soal baterai, bocoran dari Ming-Chi Kuo dan Jeff Pu menyebut kapasitas lebih dari 5.500 mAh. Bukan angka kecil untuk perangkat setipis ini.

Jadwal rilis semakin mendekati kepastian. Akun Ice Universe di platform X menyebut iPhone Ultra akan debut musim gugur 2026, serentak dengan jajaran iPhone 18 Pro. Kabar ini sekaligus membuyarkan spekulasi sebelumnya bahwa Apple akan memundurkan peluncuran perangkat lipat pertamanya.

Bandingkan dengan iPhone 18 Pro yang bocoran desainnya terasa jauh lebih aman, hampir identik dengan generasi sebelumnya. iPhone Ultra tampil sebagai satu-satunya kandidat perubahan nyata di lini produk Apple. Bukan karena pasti laku keras, tapi karena ia menawarkan arah penggunaan yang belum pernah ada sebelumnya di ekosistem mereka.

Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah desain ini berani. Tapi apakah pasar siap membayar harga "berani" itu.