Ancaman itu datang bukan dari juru bicara sembarangan. Fars, kantor berita semi-resmi yang dikenal lekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), secara eksplisit menyebut bahwa seluruh kepentingan ekonomi yang dikelola Elon Musk di kawasan Asia Barat, mencakup negara-negara Arab dan Israel, sedang dipertimbangkan untuk masuk daftar target militer Teheran.
Pemicunya: laporan penggunaan jaringan satelit Starlink dalam operasi militer yang berhadapan langsung dengan Iran. Layanan internet berbasis satelit milik SpaceX itu memang sudah tidak asing dipakai di medan konflik, dari Ukraina hingga kini diduga beroperasi di kawasan Teluk. Bagi Teheran, infrastruktur komunikasi Musk yang mendukung kapasitas lawan bukan sekadar persoalan bisnis biasa.
Eskalasi berjalan cepat. Setelah pecahnya bentrokan militer antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir, Teheran dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah negara Teluk yang berstatus sekutu Washington. Setiap aktor yang dianggap memperkuat kapasitas militer AS atau Israel agaknya kini masuk dalam kalkulasi Iran, dan Musk, dengan infrastruktur globalnya, jelas masuk kategori itu.
"Trump sekarang memegang kesepakatan itu di tangannya." Kalimat itu keluar dari seorang negosiator senior yang terlibat langsung dalam mediasi pembicaraan AS-Iran, frustrasi yang sulit disembunyikan. Ceritanya begini: AS seharusnya meneruskan proposal negosiasi terbaru kepada Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang berhaluan keras. Alih-alih meneruskan tawaran itu, AS justru memilih menyerang. Bagi negosiator ini, itu pengkhianatan terhadap meja perundingan.
Bagi pelaku pasar, ancaman terhadap aset Musk bukan angin lalu. SpaceX dan Starlink memang belum melantai di bursa, tapi Tesla (TSLA) sensitif terhadap sentimen geopolitik sekelas ini. Entah kebetulan atau tidak, nama Musk yang terseret konflik berskala besar hampir selalu diikuti volatilitas saham TSLA. Belum lagi efek rambatan klasik dari eskalasi Teluk Persia ke harga minyak, yang ujungnya menekan sentimen pasar global. Pola lama. Tapi selalu menyengat.
Pertanyaan yang kini menggantung: sampai sejauh mana Teheran bersedia mengeksekusi ancaman ini? Retorika Fars bisa saja tetap sebatas peringatan. Atau tidak.