Hampir 30 rudal balistik melintasi langit Timur Tengah dalam waktu kurang dari 24 jam. Itulah gambaran ringkas dari apa yang terjadi sejak Minggu malam (7/6/2026), ketika Iran menembakkan gelombang pertama serangan ke arah Israel sebagai respons atas bombardir Israel terhadap Beirut.
Satu hari penuh saling hajar berlangsung sebelum militer Iran akhirnya mengumumkan penghentian operasi ofensif pada Senin (8/6). Jangan terlalu cepat bernapas lega. Teheran secara eksplisit memperingatkan bahwa "langkah-langkah yang jauh lebih berat dan menghancurkan" akan menyusul jika Israel atau sekutunya kembali bergerak, termasuk di front Lebanon Selatan.
Ini konfrontasi paling serius sejak gencatan senjata April mulai berlaku. Pemicunya bukan insiden baru, melainkan Israel yang terus menggempur Hizbullah di Lebanon, sesuatu yang sejak awal sudah jadi garis merah Teheran dalam negosiasi damai dengan Washington.
Angka-angka dari pihak Lebanon, jujur saja, cukup bikin dahi berkerut. PM Lebanon Nawaf Salam menyebut Israel telah melakukan 3.491 serangan udara, 407 pembongkaran terkontrol, dan 6 operasi "perataan" di Lebanon Selatan sejak pertengahan April. Beberapa desa disebut rata dengan tanah. Militer Israel belum menanggapi angka-angka spesifik itu, meski secara rutin menegaskan hanya menargetkan infrastruktur Hizbullah.
Di Washington, suasananya tidak kalah panas. Trump, dalam wawancara dengan Financial Times, mengklaim dirinya yang mengendalikan situasi, bukan Netanyahu. "Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya," tegasnya, sambil menyebut permusuhan yang kembali pecah itu tidak akan mengganggu proses kesepakatan damai. Pernyataan itu keluar setelah terungkap Trump sudah memperingatkan Netanyahu agar tidak melancarkan serangan balasan, dan Israel memilih mengabaikannya. Bukan kali pertama Washington merasa dilewati begitu saja.
Di media sosialnya, Trump menulis lebih lugas: "Israel dan Iran harus segera berhenti menembak." Ia menyebut kedua pihak menginginkan gencatan senjata dan negosiasi sedang berjalan, "asal tidak digagalkan oleh kebodohan atau ketidaktahuan."
Iran tidak tinggal diam. Juru bicara Kemenlu Iran menyatakan tindakan Israel "tidak bisa dipisahkan dari kebijakan AS" dan Washington memikul tanggung jawab langsung atas pelanggaran gencatan senjata ini. IAEA pun kena semprot, dituduh bias secara politis dalam menangani krisis yang sedang berlangsung.
Para mediator regional, yang mencakup pejabat dari Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar, dilaporkan murka atas serangan Israel ke Beirut. Serangan itu terjadi persis saat menteri dalam negeri Pakistan berada di Teheran untuk mendorong negosiasi. Mereka menyampaikan kepada Washington bahwa manuver Israel dirancang untuk mengganggu upaya kesepakatan, dan Trump perlu menghentikan apa yang mereka sebut "manuver sembrono Netanyahu."
Kelompok Houthi dari Yaman ikut meramaikan. Dua rudal diluncurkan ke Israel dalam dua serangan terpisah, menambah panjang daftar aktor yang kini terlibat aktif dalam eskalasi ini. Inggris dan Kanada menyerukan pengendalian diri.
Imbas ke pasar keuangan langsung terasa. Bursa-bursa Asia memerah pada Senin pagi, dipukul kombinasi tensi geopolitik, kekhawatiran gelembung investasi AI, dan prospek kenaikan suku bunga AS. Kospi Korea Selatan sempat ambles hampir 9 persen. Masif. Indeks di Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan China ikut tergerus tajam. Harga minyak, yang sudah dalam tekanan, berpotensi kian melonjak.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah gencatan senjata April sudah mati atau belum. Pertanyaannya adalah seberapa jauh kedua pihak masih bisa bermain api sebelum kalkulasi meleset dan skala konflik melompat ke level yang tak lagi mudah dikendalikan siapa pun, termasuk Trump, yang agaknya mulai sadar bahwa mengendalikan Netanyahu jauh lebih susah dari yang pernah ia klaim.