Perang 40 hari, dan senjata Iran diklaim belum habis.
Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, melontarkan pernyataan itu pada hari Sabtu. "Sebagian besar kemampuan rudal kami masih belum digunakan," katanya, seraya menegaskan bahwa pasukan Iran mempertahankan superioritas udara penuh atas wilayah Israel sepanjang konflik. Klaim satu sisi, dari medan yang tidak bisa diverifikasi secara independen.
Tapi soal klaim militer, agaknya bukan bagian paling menarik dari cerita ini.
Yang lebih kasat mata justru kondisi meja perundingan, dan di sana, buntunya bahkan lebih nyata. Setidaknya enam titik krusial masih memisahkan Washington dan Teheran. Program nuklir: AS menginginkan penghentian total, Iran hanya mau pembatasan berbatas waktu. Stok uranium: Trump secara eksplisit menyebut ingin mengambil alih sekitar 400 kilogram uranium yang sudah diperkaya tinggi. Teheran menolak mentah-mentah.
Lingkaran setan klasik terjadi di Selat Hormuz. Iran bersikeras mempertahankan kendalinya sampai AS mencabut blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump bilang blokade baru dibuka setelah kesepakatan tercapai. Dua pihak, dua syarat yang masing-masing menunggu pihak lain bergerak duluan.
Lalu ada soal uang. Teheran menuntut pencairan aset yang dibekukan senilai 20 miliar dolar AS, dan di atas itu, kompensasi kerugian perang yang diklaim mencapai 270 miliar dolar. Angka yang, bisa jadi, lebih berfungsi sebagai pembuka posisi tawar ketimbang angka yang sungguh-sungguh diharapkan terwujud.
Iran pun menolak duduk langsung berhadapan dengan delegasi AS. Posisinya hanya akan disampaikan lewat Pakistan sebagai perantara.
Trump merespons dengan membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner ke Islamabad. "Saya sudah memberitahu orang-orang saya bahwa mereka akan segera pergi, dan saya berkata, 'Tidak, kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana. Kita punya semua kartu. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja, tetapi kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting,'" kata Trump kepada Fox News.
Retorika 'kartu truf' memang bak mantra favorit Trump. Masalahnya, dua pihak yang sama-sama mengklaim memegang semua kartu biasanya berakhir satu cara: tidak ada yang bergerak. Perundingan macet di tempat.
Bagi investor yang melirik aset terdampak ketegangan Timur Tengah, komoditas energi, saham pertahanan, obligasi emerging market, konstelasi ini satu pesannya jelas: volatilitas belum mau pergi dalam waktu dekat.