Misi diplomatik Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Teheran pulang dengan tangan kosong. Iran menolak proposal gencatan senjata yang ia bawa langsung dari Washington, tak lama setelah ia menemui Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Alasannya sederhana tapi berat. Teheran menilai proposal itu tidak menyentuh satu hal yang paling krusial: kendali atas Selat Hormuz. Bagi Iran, itu bukan detail teknis. Itu jantung dari seluruh konfrontasi ini.
Kunjungan al-Zaidi ke Iran pada Kamis (23/7/2026) adalah kunjungan resmi pertamanya sejak ia menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei lalu. Ia datang bersama delegasi tingkat menteri, bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen sekaligus juru runding utama Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Agenda resminya mencakup hubungan bilateral dan kerja sama di bidang perdagangan, energi, serta transportasi. Agenda tidak resminya, agaknya, jauh lebih berat dari itu.
New York Times, mengutip pejabat Iran dan Irak, pertama kali melaporkan bahwa al-Zaidi membawa pesan khusus dari Trump beserta proposal gencatan senjata formal. Rincian isi proposal masih gelap. Yang jelas, pejabat Iran menegaskan ini satu-satunya tawaran yang saat ini ada di meja dari pihak AS. Teheran memilih melemparnya.
Pertanyaannya, kenapa sekarang? Situasi di lapangan tidak memberi ruang untuk optimisme. Sejak Trump mengumumkan pada 8 Juli bahwa nota kesepahaman AS-Iran bulan lalu tidak lagi berlaku, kedua negara saling hajar tanpa jeda. Centcom mengonfirmasi serangan terhadap target-target Iran pada Jumat (24/7) dini hari, menandai malam ke-13 berturut-turut. Teheran mengeklaim telah membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah titik kawasan, termasuk menyasar Tel Aviv dan meminta Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.
Korban terus berjatuhan. Otoritas Iran menyebut 53 orang tewas dan 592 luka-luka akibat serangkaian serangan AS hingga Rabu lalu. Belum final, kemungkinan besar.
Dua pejabat Iran yang dikutip New York Times menyatakan, kalau Trump benar-benar merealisasikan ancaman menyerang Teheran dan infrastruktur vital Iran, respons Teheran tidak akan terbatas pada titik itu saja. Konflik akan meledak ke skala kawasan penuh. Pernyataan itu, entah kebetulan atau tidak, disampaikan tepat saat utusan perdamaian Irak masih berada di kota itu.
Dampaknya sudah terasa. Pelayaran di Selat Hormuz terganggu, pasokan energi dunia terancam, wilayah udara kawasan tutup-buka tidak menentu. Bagi investor yang terpapar sektor energi atau aset Timur Tengah, ini bukan sekadar berita geopolitik. Risiko nyata, tanpa tanggal selesai.