RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iran Pasang Syarat Buka Selat Hormuz: Minta Jamina...

Internasional

Iran Pasang Syarat Buka Selat Hormuz: Minta Jaminan AS-Israel Tak Serang Lagi

Di hadapan Dewan Keamanan PBB, Iran menegaskan Selat Hormuz baru bisa kembali normal jika ada jaminan kredibel bahwa serangan AS dan Israel tidak akan terulang. Puluhan negara mengecam langkah Teheran yang mengambil alih kendali jalur minyak paling strategis di dunia itu.

Teheran tidak main-main. Di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Senin waktu New York, Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani menyampaikan satu pesan yang cukup keras: Selat Hormuz baru bisa kembali normal kalau ada jaminan dari Washington dan Tel Aviv bahwa serangan tidak akan terulang.

"Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran, dilengkapi jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah," tegas Iravani di hadapan para delegasi.

Sesi tersebut diprakarsai oleh Bahrain. Suasananya, agaknya, tidak terlalu ramah bagi delegasi Teheran. Puluhan negara, satu per satu, mengutuk langkah Iran yang mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Bukan angka yang bisa diabaikan.

Tapi Iran punya narasi berbeda. Dari perspektif Teheran, kontrol atas Selat Hormuz bukan provokasi, melainkan respons atas apa yang mereka sebut agresi berkelanjutan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bahkan sempat mengklaim AS dan Israel kalah dalam konflik terbaru, seraya menegaskan Teheran akan memasuki "era baru" dalam pengelolaan jalur strategis tersebut. Klaim kemenangan yang, kalau data di lapangan bisa dipercaya, masih jauh dari terbukti.

Iravani juga menuding Israel sebagai sumber utama instabilitas kawasan Timur Tengah. Framing yang konsisten dengan posisi Teheran selama bertahun-tahun. Di forum PBB, tuduhan semacam itu jarang berakhir dengan resolusi konkret.

3.375 jiwa. Angka korban tewas yang tercantum dalam laporan terkini seiring Iran disebut mulai mengajukan damai bersyarat. AS pun dilaporkan memperketat blokade dengan mencegat kapal dagang di Laut Arab. Bagi sejumlah analis, langkah Washington itu justru makin mempersempit ruang negosiasi, bukan melebarkannya.

Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar urusan geopolitik. Setiap sinyal dari Selat Hormuz langsung terbaca di harga minyak mentah global, ibarat seismograf yang dipasang di jantung perdagangan energi dunia. Selama jaminan yang diminta Iran belum terpenuhi, jalur ini akan tetap jadi sumber volatilitas. Pertanyaannya: siapa yang bergerak lebih dulu?