Tiga bulan setelah serangan udara AS dan Israel menghantam Iran, yang diharapkan jadi pukulan telak itu kini berbalik menjadi cerita yang tidak nyaman bagi Washington. Iran tidak hancur. Iran berubah.
Sejak operasi militer besar-besaran dilancarkan pada akhir Februari 2026, Teheran memang dihajar habis-habisan. Infrastruktur industri, sekolah, rumah sakit, situs bersejarah, hingga kawasan pemukiman rata dengan tanah. Tapi pemerintah Iran tetap berdiri. Dan yang lebih penting, militernya masih utuh.
Ketegangan kembali memuncak setelah sebuah helikopter serang Apache AS jatuh pada 9 Juni. Iran langsung menyuarakan ancaman yang tidak main-main: jika diplomasi gagal, Teheran siap memperluas konflik hingga ke jalur pelayaran dari Samudra Hindia, Laut Merah, sampai Mediterania. Bukan sekadar gertakan. Kendali atas Selat Hormuz sudah Iran buktikan bukan isapan jempol.
Dua hari sebelumnya, pada 7 Juni, Iran melancarkan apa yang mereka sebut "serangan peringatan" ke arah Israel. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memecah kebuntuan di meja perundingan. "Kami telah membalikkan persamaan gencatan senjata, yang hanya ada di atas kertas dan terus-menerus dilanggar di lapangan. Sampai niat baik yang tulus muncul untuk membangun kepercayaan, respons Iran akan tetap sama," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran, pada 8 Juni.
Aaron David Miller, veteran negosiator perdamaian Timur Tengah dari pihak AS, mengakui pergeseran ini dengan gamblang: Iran kini percaya mereka punya lebih banyak kendali, dan karena itu berani mengambil risiko yang sebelumnya tidak terpikirkan. Danny Citrinowicz, mantan kepala divisi Iran di intelijen militer Israel, menyebutnya sebagai upaya membangun "persamaan baru". Kepemimpinan Iran sekarang, kata Citrinowicz, percaya bahwa apa yang gagal dicapai lewat diplomasi bisa diraih lewat kekuatan.
Strategi pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpin senior Iran yang dijalankan AS dan Israel ternyata bak pedang bermata dua. Alih-alih menghancurkan struktur komando, langkah itu justru membuka jalan bagi generasi teknokrat muda untuk naik ke tampuk kekuasaan. Generasi baru ini, kata banyak analis Barat yang terkejut mendapatinya, tidak lebih lunak dari pendahulunya. Justru sebaliknya: lebih terorganisir, lebih pragmatis.
Hanya dalam delapan bulan sebelum perang baru meletus, Iran menerapkan lebih banyak reformasi struktural daripada yang berhasil dilakukan dalam satu dekade sebelumnya. Segera setelah perang pertama berakhir pada Juni 2025, IRGC mulai mempersiapkan skenario konflik berikutnya. Tidak ada jeda untuk berkabung.
Di lapangan, Iran mengandalkan peperangan asimetris yang sudah dipikirkan matang selama empat dekade: UAV, kapal cepat, ranjau laut. Hasilnya tidak remeh. Pangkalan militer AS di kawasan Teluk mengalami kerusakan, sementara negara-negara tetangga dilanda krisis kepercayaan terhadap Washington. Agaknya, garansi keamanan Amerika di kawasan itu tidak lagi semeyakinkan dulu.
Seorang analis politik Iran mengungkapkan kepada Foreign Affairs sesuatu yang patut dicermati: "Pencabutan sanksi tidak lagi begitu penting bagi kami, karena kami tahu itu tidak akan terjadi, atau jika terjadi, tidak akan bertahan lama. Sekarang, mengelola Selat Hormuz adalah kuncinya." Kalimat itu merangkum betapa jauh kalkulasi strategis Teheran telah bergeser.
Narges Bajoghli dan Vali Nasr, dua profesor Timur Tengah dari Johns Hopkins, menyebut gaya berunding Iran sebagai taktik "gaya pasar": sabar, berulang kali mengajukan tuntutan, bernegosiasi dalam jangka panjang sampai pihak lain kelelahan atau terpaksa mengalah. Trump menginginkan kesepakatan transaksional yang cepat dan dramatis. Iran justru senang berlarut-larut. Pertanyaannya, berapa lama Washington tahan dengan ritme seperti ini?
Faktor yang kerap diremehkan adalah dimensi domestik. Protes besar yang mengguncang Iran pada Januari 2026, cerminan kelelahan rakyat atas tekanan ekonomi bertahun-tahun, praktis menguap begitu bom-bom mulai berjatuhan. Pemboman tanpa henti memicu respons nasionalis yang luar biasa: warga berdemonstrasi setiap hari, membentuk barikade manusia di sekitar pembangkit listrik dan jembatan strategis. Perpecahan internal yang tadinya mengancam stabilitas rezim meleleh oleh panas perang.
Iran yang lahir dari konflik ini berbeda dari Iran sebelumnya. Lebih keras, lebih adaptif, dan entah kebetulan atau tidak, lebih percaya diri. Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi apakah Iran bisa dikalahkan secara militer, melainkan apakah Washington dan Tel Aviv sudah benar-benar memperhitungkan biaya dari sebuah perang yang tidak menghasilkan kemenangan seperti yang mereka bayangkan.