Teheran mengirim pesan yang terang-benderang pada Jumat (24/7): konfrontasi dengan Amerika Serikat kini punya aturan main baru, dan aturan itu tertulis dalam darah.
Mayor Jenderal Ali Abdullahi, Panglima Markas Pusat Khatam al-Anbiya, mengumumkan apa yang ia sebut "persamaan yang pasti", sebuah doktrin balasan yang kali ini bukan lagi bisik-bisik di balik layar. Setiap warga Iran yang gugur akan dibalas dengan menargetkan satu personel militer AS. Bukan ancaman baru, tegasnya, tapi rumus yang sudah dibuktikan di lapangan dan kini dikukuhkan secara resmi. "Sebagai balasan atas gugurnya setiap warga Republik Islam Iran, satu personel militer Amerika akan menemui ajal," tulis Abdullahi lewat unggahan media sosialnya.
Tidak berhenti di situ. Abdullahi juga menyebut pihaknya telah menyiapkan, dalam kata-katanya sendiri, "tiket gratis dan langsung menuju neraka" bagi pasukan Amerika. Keras. Dan disengaja.
Pernyataan ini meluncur saat suhu kawasan sudah mendidih duluan. Dua kapal tanker milik Arab Saudi diserang di perairan yang sensitif, insiden yang langsung memantik respons dari Washington. Presiden AS Donald Trump dilaporkan melayangkan ultimatum ke Teheran dan kelompok Houthi, menuntut pertanggungjawaban atas eskalasi yang terus bergerak ke arah tak terkendali.
Bagi pengamat yang lama mencermati Timur Tengah, doktrin Abdullahi bukan sepenuhnya mengejutkan. Iran sejak lama menganut prinsip deterensi berbasis pembalasan simetris. Yang beda kali ini: Teheran memilih mengumumkannya terbuka, seolah ingin memastikan Washington tidak salah baca sinyal. Atau, kalau data ini bisa dipercaya, memang sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih dari sekadar retorika.
Kondisi logistik AS di kawasan tak kalah mengkhawatirkan. Pentagon dilaporkan tengah kembali berburu rudal Patriot generasi lama setelah cadangan pertahanan udara terkuras. IRGC mengeluarkan peringatan darurat bagi warga di sekitar pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut. Gudang amunisi dan menara pengawas Armada Kelima AS diklaim sempat dihajar rudal Iran dalam eskalasi terakhir, klaim yang belum sepenuhnya dikonfirmasi Washington.
Kalau Trump benar-benar menekan pedal gas dengan ultimatumnya, ia akan berhadapan dengan lawan yang, setidaknya dalam narasi publik, sedang memperlihatkan gigi. Apakah doktrin Abdullahi benar-benar operasional atau sekadar perang psikologi? Pertanyaan itu agaknya akan terjawab dalam hitungan pekan.