Kapal perang AS akan terbakar. Bukan metafora.
Mohammad Akbarzadeh, asisten politik komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melontarkan peringatan itu dari Minab, kota kecil di Iran selatan yang dipilih bukan tanpa alasan. Di sanalah, lebih dari 170 siswa dan staf sekolah dilaporkan tewas dalam serangan yang Tehran cap sebagai agresi tanpa provokasi oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Dari kota itu, Akbarzadeh berkata: jika Washington salah langkah lagi, Angkatan Laut IRGC akan membuka kartu baru. Termasuk apa yang ia sebut sebagai "teknologi penargetan cerdas" yang belum pernah dipertontonkan. "Kapal-kapal besar rezim kriminal itu akan terbakar dan lumpuh," tegasnya, seperti dikutip Al Mayadeen.
Pernyataan keras. Tapi momentumnya yang membuat ini lebih dari sekadar gertakan biasa.
Iran memilih bicara persis ketika negosiator AS dan Tehran masih aktif saling berkomunikasi, sementara Pakistan dilaporkan mendorong keras kedua pihak ke meja perundingan. Sinyal ganda yang, agaknya, disengaja sepenuhnya.
Akbarzadeh bukan satu-satunya yang angkat suara. Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi menambahkan dimensi berbeda: Iran mengklaim belum mengerahkan sistem persenjataan terbarunya, termasuk rudal dan drone yang diperkenalkan pada Januari 2026. Pasukan darat, tegasnya, belum disentuh sama sekali dalam konflik ini. Menanggapi klaim bahwa angkatan laut Iran sudah dilemahkan musuh, Naqdi menolak mentah-mentah. "Kalau musuh sudah melenyapkan kekuatan laut kami, kenapa mereka tidak bisa membuka Selat Hormuz?" sindirnya.
Selat Hormuz. Dua kata yang bisa bikin pasar energi global keringat dingin. Jalur itu mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, dan Iran tahu persis daya tawar yang ada di tangannya.
Akbarzadeh juga menyiratkan respons tidak akan datang sendirian. Jaringan Poros Perlawanan, dari Houthi di Yaman hingga kelompok proksi di Irak dan Lebanon, ia sebut masih menjadi kartu yang dipegang Teheran. Klaim yang patut disimak dengan skeptis, kalau boleh jujur, mengingat sebagian besar jaringan itu sudah dihajar habis-habisan dalam setahun terakhir.
Di Washington, tekanan domestik untuk mengakhiri konflik Iran yang disebut-sebut kian mahal terus menguat. Kubu Demokrat dilaporkan bersiap menggugat kebijakan perang Trump, sementara sebagian kalangan di dalam pemerintahan sendiri ingin segera mengklaim kemenangan dan hengkang.
Bagi investor yang melirik sektor energi atau aset berbasis komoditas, satu hal jelas: selama Selat Hormuz masih jadi kartu tawar, premi risiko geopolitik pada harga minyak tidak akan kemana-mana.