Teheran melempar peringatan keras ke London: bantu Washington, dan seluruh kepentingan Inggris di Asia Barat bisa jadi sasaran.
Seorang pejabat senior Iran yang identitasnya dirahasiakan menyampaikan ancaman itu pada Rabu (22/7), merespons laporan bahwa Perdana Menteri baru Inggris Andy Burnham telah menyetujui penggunaan pangkalan-pangkalan militer London oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan ke Iran. Bloomberg melaporkan keputusan Burnham itu sejak Senin malam. Agaknya laporan itulah yang memicu respons Teheran.
Bukan sekadar gertakan diplomatik. Pejabat Iran tersebut secara eksplisit menyebut "seluruh kepentingan Inggris di kawasan akan dimasukkan ke dalam daftar target Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran" jika keterlibatan London dalam operasi militer AS terbukti benar, dengan konsekuensi yang melampaui ranah politik dan hukum internasional.
Sumber tersebut juga mengingatkan bahwa Iran punya rekam jejak menepati ancamannya. "Inggris sebelumnya telah merasakan secara langsung pelaksanaan ancaman Iran selama perang 40 hari," tegasnya, tanpa merinci kejadian yang dimaksud. Kalimat itu terdengar seperti pengingat yang disengaja.
Konteks geopolitisnya kian panas. Laporan-laporan yang beredar menyebut serangan AS ke Iran sebagian diluncurkan dari pangkalan militer Inggris. Kalau itu benar, ini babak baru yang cukup serius buat London di era Burnham. Iran sendiri mengklaim serangan balasannya memasuki fase baru: penghancuran unit perang elektronik AS dan peluncuran rudal ke pangkalan Amerika di Kuwait serta Bahrain.
Teheran juga memperluas tekanannya ke negara-negara tetangga. IRGC secara terbuka menyerukan kepada rakyat Kuwait bahwa AS yang melanggar kedaulatan mereka, bukan Iran. Kompleks hunian personel militer AS di Kuwait dilaporkan hancur. Yaman, sekutu Teheran, memaksa enam kapal Saudi berbalik dari Bab al-Mandab. Eskalasi ini sudah jauh melampaui duel dua negara.
Pesan Teheran ke Eropa sebetulnya satu: jangan jadi mitra agresi Amerika. Pertanyaannya kini, apakah London akan mengkalibrasi ulang posisinya, atau justru makin dalam terseret ke dalam konflik yang belum jelas ujungnya.