Ini bukan sekadar diplomasi. Ini operasi militer lintas batas yang disimpan rapat-rapat, sampai sekarang.
Israel mengerahkan baterai Iron Dome ke Uni Emirat Arab di fase awal perang dengan Iran pada Februari-Maret lalu, lengkap dengan beberapa lusin personel militer yang mengoperasikannya. Pengerahan ini, yang baru terkonfirmasi lewat laporan Axios berdasarkan keterangan dua pejabat Israel dan satu pejabat Amerika Serikat, menjadi pertama kalinya Iron Dome dioperasikan di luar wilayah Israel.
Triggernya sederhana: satu panggilan telepon antara PM Benjamin Netanyahu dan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Setelah percakapan itu, Netanyahu langsung menginstruksikan militer untuk bergerak, mengirim baterai rudal, rudal pencegat, dan awak operasional ke Abu Dhabi. Cepat, terkoordinasi, dan sunyi.
Kenapa harus sunyi? Sensitivitas politiknya di kawasan Teluk agaknya terlalu besar untuk dikumandangkan. Kehadiran personel tempur Israel yang mengoperasikan sistem senjata di dalam wilayah negara Arab, bahkan negara yang sudah menormalisasi hubungan lewat Abraham Accords 2020 sekalipun, berbeda secara kualitatif dari sekadar jual-beli teknologi atau kerja sama intelijen.
Dan ternyata sistem itu benar-benar dipakai. Rudal Iran berdatangan ke UEA dalam jumlah yang tidak kecil: sekitar 550 rudal balistik dan jelajah, ditambah lebih dari 2.200 drone, menurut data Kementerian Pertahanan UEA. Iron Dome disebut berhasil mencegat "banyak" rudal yang mengarah ke wilayah itu, meski pejabat kedua negara enggan merinci angka pasti atau lokasi penempatan sistem tersebut.
Masif. Dan UEA tercatat sebagai negara yang paling banyak dihajar serangan Iran selama konflik berlangsung. Sebagian besar proyektil berhasil dicegat, tapi sejumlah di antaranya tetap mengenai sasaran militer maupun sipil.
Israel tidak berhenti di situ. Tel Aviv juga dilaporkan mengerahkan pesawat tempur untuk menyerang peluncur rudal jarak pendek di Iran selatan, khusus untuk meredam ancaman lanjutan ke UEA dan negara-negara Teluk lainnya. Bagi Israel, ini bukan sekadar bantuan ke tetangga baru. Ini kepentingan strategis: menjaga stabilitas mitra-mitra normalisasi dari tekanan Iran yang makin agresif.
Pejabat UEA menyebut Israel sebagai salah satu dari beberapa mitra yang berkontribusi dalam pertahanan wilayah mereka, bersama AS, Inggris, Prancis, Italia, dan Australia. Ada catatan menarik dari sisi Abu Dhabi: pejabat senior UEA dilaporkan menyampaikan apresiasi atas keputusan Netanyahu yang rela mengalihkan aset pertahanan ke luar negeri, justru di saat Israel sendiri sedang dibombardir rudal dan drone Iran. Gestur yang, entah kebetulan atau tidak, mempertegas betapa dalam kepercayaan yang sudah terbangun antara kedua negara.
Sejak 2020, Israel dan UEA memang sudah memperluas kerja sama di bidang pengawasan, siber, energi, dan persenjataan. Tapi kehadiran tentara Israel yang mengoperasikan sistem pertahanan udara di tanah Arab adalah babak baru. Satu pejabat senior Israel bahkan menyebut UEA sebagai negara pertama di luar AS yang menampung Iron Dome secara operasional di wilayahnya.
Pertanyaannya, seberapa jauh kemitraan ini akan berlanjut setelah bedil meriam mereda?
Persekutuan yang pelan-pelan mengubah peta keamanan Timur Tengah, satu pengerahan rahasia dalam satu waktu.