RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Iron Dome Israel Pertama Kali Keluar Kandang, UEA...

Internasional

Iron Dome Israel Pertama Kali Keluar Kandang, UEA Jadi Pemakainya

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Israel mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke luar negeri. UEA menjadi negara ketiga yang mengoperasikan sistem ini secara nyata di tengah gempuran rudal dan drone Iran.

Satu baterai Iron Dome Israel kini pernah berdiri di tanah Arab Teluk. Bukan latihan. Bukan demonstrasi. Ini operasional penuh, saat rudal dan drone Iran menghajar UEA bertubi-tubi sejak perang meletus 28 Februari lalu.

Laporan Axios, yang mengutip sejumlah pejabat Israel dan Amerika Serikat, mengonfirmasi pengiriman itu dilakukan pada fase awal konflik. Keputusannya lahir dari satu panggilan telepon langsung antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Bukan koordinasi antar staf, bukan jalur protokol diplomatik biasa. Kepala pemerintahan berbicara langsung, dan keputusan diambil cepat.

Skala serangan Iran memang bukan main-main. Kementerian Pertahanan UEA mencatat sekitar 550 rudal balistik dan jelajah, ditambah lebih dari 2.200 drone, diarahkan ke wilayah mereka sejak awal perang. Angka yang besar, bahkan untuk ukuran konflik modern.

UEA sebetulnya sudah punya lapisan pertahanan yang tidak tipis, eh, maksudnya: pertahanan berlapis yang sudah ada mencakup Patriot, THAAD, dan Barak-8. Tapi volume serangan Iran agaknya terlalu masif untuk ditangani sendiri. Iron Dome hadir melengkapi lapisan itu, khususnya untuk mencegat proyektil jarak pendek. Sistem ini, bersama puluhan operator dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dilaporkan berhasil menghantam puluhan rudal Iran.

Cukup untuk bikin perbedaan.

UEA kini tercatat sebagai negara ketiga pengguna Iron Dome secara operasional, setelah Israel sendiri dan Amerika Serikat.

Pengerahan personel militer Israel ke wilayah Arab Teluk jelas bukan perkara sederhana secara politik. Menariknya, atau lebih tepat: yang perlu dicatat, para pejabat UEA, seperti dikutip laporan tersebut, menyatakan bahwa perang dengan Iran telah menggeser banyak cara pandang di negara mereka. Seorang pejabat tegas menyebut: siapa pun yang membantu mempertahankan UEA dari serangan Iran akan dipandang positif, tanpa terkecuali.

Perjanjian Abraham 2020 memang menormalisasi hubungan Israel-UEA, sebagian didorong oleh kekhawatiran bersama terhadap Teheran. Tapi dari normalisasi diplomatik ke koordinasi militer aktif saat perang berkecamuk, itu lompatan yang jauh. Para pejabat kedua negara mengakui bahwa tingkat koordinasi yang terjadi sejak 28 Februari belum pernah ada sebelumnya.

Solidaritas sekutu dalam menghadapi ancaman bersama, kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam konferensi persnya, adalah hal yang penting. Kalimat yang terdengar normatif. Tapi bobotnya lain kalau dibaca sambil mengingat bahwa tentara Israel baru saja mengoperasikan sistem pertahanan di Abu Dhabi.

Sebagian besar proyektil Iran berhasil dicegat, meski beberapa tetap menghantam target militer maupun sipil. Pertanyaannya kini: seberapa jauh kerja sama ini berlanjut setelah perang usai, dan apakah UEA akan jadi preseden bagi negara lain yang ingin akses ke sistem pertahanan Israel?