RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Perintahkan Tirus Dikosongkan, Lebanon Sela...

Internasional

Israel Perintahkan Tirus Dikosongkan, Lebanon Selatan Makin Membara

Untuk pertama kalinya, militer Israel memerintahkan evakuasi warga di kawasan Kristen Kota Tirus pada 9 Juni 2026, menandai eskalasi konflik yang kini telah menewaskan lebih dari 3.600 orang di Lebanon sejak Maret lalu.

Tirus, Kantong Terakhir yang Harus Kosong

Tirus, kota pelabuhan kuno yang masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, kini kosong. Jalan-jalan yang biasanya ramai pengunjung musim panas berubah jadi lorong sepi, hanya diwarnai deru mobil-mobil sarat barang bawaan yang bergerak keluar kota.

Pada Selasa, 9 Juni 2026, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk kawasan mayoritas Kristen di Tirus. Belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelum peringatan itu sempat direspons warga, serangan udara lebih dulu berjatuhan dan menewaskan delapan orang. Hanya beberapa jam setelah perintah resmi dikeluarkan, jalanan sudah macet total oleh kendaraan yang kabur ke Sidon atau Beirut.

Kota ini sebelumnya sempat dianggap sebagai kantong yang relatif aman. Sejak pecah perang antara Israel dan Hizbullah pada 2 Maret lalu, Tirus justru jadi tempat berlindung bagi ribuan pengungsi dari desa-desa perbatasan. Kini giliran warganya sendiri yang harus angkat kaki. "Kami sudah mengemasi barang-barang kami dan kami akan pergi," kata Elias Barbour, salah satu warga, yang berencana menumpang di rumah saudara perempuannya di Beirut sembari menunggu perkembangan.

Ada pula yang menolak pergi. Seorang nelayan yang tidak disebutkan namanya menegaskan ia tidak akan meninggalkan rumahnya. "Aku tidak mau pergi. Ini rumahku, jiwaku. Kami nelayan. Ke mana lagi kami akan pergi?" Bukan sekadar dramatisasi. Kalimat itu mencerminkan dilema nyata: pergi berarti kehilangan sumber penghidupan, bertahan berarti bertaruh nyawa.

Gambaran di lapangan lebih suram lagi. Lily, pekerja sosial berusia 29 tahun asal Tirus yang kini mengungsi di Beirut namun sesekali kembali mengantarkan obat dan makanan, menyebut kotanya kini seperti kota hantu. Tiga minggu lalu hanya satu apotek yang buka setiap dua-tiga hari sekali, itupun sering tutup mendadak karena alasan keamanan. Toko kelontong bisa dihitung jari, dan pasokan nyaris mustahil masuk karena tidak ada yang mau melewati jalur darat yang dianggap terlalu berbahaya.

Yang membuat warga kian resah bukan cuma frekuensi serangan, tapi ketidakpastiannya. Lily bercerita, kadang Israel memberi peringatan sebelum menghantam sebuah gedung, tapi dalam praktiknya empat gedung lain yang justru kena. Atau peringatan sudah keluar namun serangan baru terjadi seminggu kemudian. Di lain waktu, bom jatuh tanpa peringatan sama sekali, seperti yang menghancurkan rumah keluarga bersejarah milik sahabatnya pada Minggu, 7 Juni. "Tidak ada peringatan. Tidak ada target militer di sana," ungkap Lily. Rumah itu rata dengan tanah. Penghuninya kebetulan sedang dalam proses pindah ke Prancis.

Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 3.600 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi. Angka yang terus bertambah setiap hari.

Sejauh mana Israel berniat masuk ke wilayah Lebanon? Pertanyaan itu kini menggantung di benak siapa saja yang mengikuti konflik ini. Pada akhir Mei, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terang-terangan menyatakan ingin pasukannya "memperkuat dan memperluas" kendali di wilayah Lebanon. Menteri Pertahanan Israel Kartz menegaskan warga tidak akan bisa kembali ke selatan Lebanon sampai keselamatan warga Israel di wilayah utara benar-benar terjamin.

Israel telah menetapkan "garis kuning" sekitar 10 kilometer dari perbatasan sebagai zona penyangga. Ada laporan yang menyebut pasukan Israel sudah beroperasi melampaui garis itu, mendekati Sungai Litani, untuk pertama kalinya sejak 2006. Nabatieh, kota lain di luar garis kuning, juga sudah menerima perintah evakuasi.

Institute for Applied Geopolitics, lembaga konsultan risiko berbasis di AS, dalam laporan Juni menyebut pola ini sebagai "pergeseran dari pertahanan perbatasan terbatas menuju strategi kendali wilayah." Skala dan simbolismenya, kata laporan itu, mengingatkan pada pendudukan Israel tahun 1982.

Tidak semua sepakat dengan pembacaan itu. Yossi Kuperwasser, mantan kepala divisi riset militer Israel sekaligus kepala Jerusalem Institute for Strategy and Security, membantah Israel sudah masuk sejauh itu. Target yang disetujui pemerintah, katanya, tetap sekitar 10 kilometer dari perbatasan. Tapi ia pun mengakui ada perdebatan internal soal perlu tidaknya melangkah lebih jauh, terutama karena serangan drone Hizbullah yang nyaris harian masih menimbulkan korban.

H.A. Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute for Defense and Security Studies di London, melihatnya dari sudut yang lebih tajam. Israel, menurutnya, sadar bahwa ruang gerak mereka tidak akan selamanya terbuka lebar, bahkan di bawah pemerintahan Trump sekalipun. "Jadi mereka memanfaatkan momen ini untuk menarik garis-garis baru," ujar Hellyer. Sejarah, ia ingatkan, memperlihatkan zona keamanan Israel kerap berakhir sebagai wilayah yang dikuasai permanen. Dataran Tinggi Golan jadi preseden yang paling sering disebut.

Bagi pelaku pasar, eskalasi ini bukan isu yang bisa dikesampingkan begitu saja. Timur Tengah tetap jantung pasokan energi global, dan setiap perluasan konflik berpotensi mengganggu aliran minyak, mendorong harga komoditas, serta memicu gelombang risk-off yang menggeser modal dari aset berisiko ke safe haven seperti emas dan dolar AS. Kapan ujungnya? Agaknya belum ada yang tahu.

Lily tetap berencana kembali ke Tirus, kapanpun ada kesempatan. "Ini bukan pertama kalinya kami diserang atau diduduki. Kami akan membangun kembali. Karena itulah mentalitas orang-orang di selatan. Kami tangguh, dan ini tanah kami." Kalimat yang terdengar familiar di setiap sudut konflik panjang ini, dan mungkin itulah tragedi sesungguhnya.