RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Israel Tuding Prancis, China, dan Pakistan Bayar I...

Internasional

Israel Tuding Prancis, China, dan Pakistan Bayar Iran demi Akses Selat Hormuz

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon melontarkan serangan diplomatik terbuka terhadap tiga negara bersenjata nuklir yang dianggap bersekongkol dengan Iran demi mengamankan jalur kapal mereka di Selat Hormuz.

Sidang Majelis Umum PBB pekan ini bukan sekadar soal blokade Selat Hormuz. Forum itu berubah jadi arena konfrontasi diplomatik yang jarang terjadi, ketika Israel secara terang-terangan menuding tiga negara bersenjata nuklir bermain dua kaki dalam krisis jalur minyak terpenting dunia.

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon tidak pilih-pilih kata. Lewat unggahan di platform X, tak lama setelah ia bicara di hadapan sidang, Danon langsung menembak pertanyaan ke muka kolega-koleganya. "Saya bertanya kepada duta besar Prancis: Berapa banyak uang yang Anda bayarkan kepada Iran agar kapal-kapal bisa melintas dengan aman melalui Selat Hormuz?" tulisnya. Hasilnya? Hening. Sang duta besar tidak punya jawaban. Begitu pula perwakilan China dan Pakistan.

Bukan gertakan kosong. Laporan Financial Times yang mengutip data pelacakan kapal dari MarineTraffic menyebut sebuah kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis berhasil melintasi Selat Hormuz bersama beberapa kapal lain, pada periode ketika Iran memberlakukan pembatasan ketat terhadap pelayaran asing. China dan India sudah sejak Maret mendapat lampu hijau dari Teheran, bersamaan dengan Rusia, Irak, Pakistan, dan Sri Lanka.

Masuk akal kalau Beijing tidak terlalu ribut soal blokade ini. China adalah pembeli terbesar minyak Iran, dan sebagian besar pasokan itu mengalir melewati titik sempit yang sama. Bukan rahasia.

Selat Hormuz menangani sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia. Navigasi di kawasan itu terganggu sejak akhir Februari, ketika Iran menutup aksesnya sebagai respons atas kampanye pengeboman Amerika Serikat dan Israel yang dimulai 28 Februari lalu. Sempat ada secercah harapan pada Jumat: Teheran membuka kembali selat itu untuk semua kapal komersial, dengan dalih gencatan senjata yang dikaitkan dengan kesepakatan Israel-Lebanon. Tapi hanya bertahan sehari. Sabtu, selat ditutup lagi.

Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade Washington terhadap pelabuhan dan pelayaran Iran tidak akan dicabut sebelum ada kesepakatan damai. Pembicaraan bilateral di Pakistan pekan sebelumnya sudah kandas tanpa hasil.

Sikap ketiga negara di forum PBB sendiri cukup bercerita. Prancis, agaknya sadar posisinya disorot, memilih mendukung resolusi yang mengutuk blokade Iran. China memveto bahasa resolusi yang dianggap terlalu keras. Pakistan? Abstain. Tiga pilihan berbeda, satu benang merah yang sama: tidak ada yang betul-betul berdiri di satu kubu.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya diuntungkan dari ambiguitas ini? Kritik Israel bisa dibaca sebagai sinyal frustrasi yang lebih dalam. Ketika tekanan militer dan diplomatik terhadap Iran mengencang, sejumlah negara besar justru sibuk memastikan kapal-kapal mereka aman dulu. Entah ada transaksi di balik layar atau tidak, itu yang belum terjawab. Dan pertanyaan Danon di X itu, bisa jadi, memang tidak dimaksudkan untuk dijawab.