RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Jawa 42 Bobber All Stars: Jiwa 1960-an, Harga Rp 3...

Bisnis

Jawa 42 Bobber All Stars: Jiwa 1960-an, Harga Rp 38 Jutaan

Jawa resmi meluncurkan 42 Bobber All Stars, motor bergaya bobber klasik dengan jok tunggal cantilever dan mesin 334 cc liquid-cooled, ditawarkan di kisaran Rp 38 jutaan.

Jawa Rilis Moge Retro Jok Satu Orang, Harga Rp 30 Jutaan

Jawa punya cara tersendiri untuk menarik perhatian pasar motor retro Indonesia. Peluncuran 42 Bobber All Stars agaknya jadi salah satu langkah paling serius yang mereka ambil belakangan ini.

Visual paling mencolok langsung ketara dari jok tunggal tipe cantilever, eh, bukan, dari siluet keseluruhannya yang kasar dan membumi. Jok itu diposisikan seolah mengambang di atas spakbor belakang, tanpa tumpuan yang kelihatan dari samping. Siluetnya tegas. Detail grafis motif catur pada pilihan warnanya mempertegas nama "All Stars" yang disematkan, sementara dua knalpot kanan-kiri membangun aura muscle bike yang tidak dibuat-buat. Desain bobber era 1960-an, kalau data ini bisa dipercaya, jarang semurni ini diterjemahkan ke motor produksi massal.

Soal ergonomi, tidak setengah-setengah. Jok bisa digeser maju-mundur sesuai postur pengendara, dipadukan setang lebar dan footpeg yang dipasang agak maju. Tangki teardrop, sumbu roda yang sengaja diperpanjang, ban berprofil tebal, semua itu membangun postur berkendara merunduk dan membumi saat cruising. Cocok untuk jalur panjang maupun sekadar turing akhir pekan.

Mesin 334 cc satu silinder berpendingin cairan jadi jantungnya. Tenaga maksimal 29,5 PS, torsi puncak 32,7 Nm. Disalurkan lewat transmisi manual enam percepatan yang sudah dilengkapi assist dan slipper clutch. Rp 38 jutaan dengan fitur itu? Bukan penambahan yang bisa dianggap remeh.

Fitur modern juga diselipkan rapi tanpa merusak estetika retro yang dibangun: pencahayaan full LED dari depan hingga belakang, panel instrumen digital LCD, port USB untuk pengisian daya. Sistem pengereman cakram ganda dengan ABS dual-channel turut disematkan, setidaknya itu klaim pabrikannya, dan kondisi jalanan nyata tentu jadi ujian sesungguhnya.

Pertanyaannya, apakah komunitas motor retro Indonesia cukup besar untuk menyerap model seperti ini dengan cepat? Rekam jejak Jawa di segmen klasik menunjukkan mereka tahu betul siapa yang sedang mereka ajak bicara.