Sebuah pesawat tempur berusia lebih dari setengah abad mempermalukan salah satu mesin perang terkuat di dunia. Itulah, singkatnya, yang terjadi di Camp Buehring.
Laporan khusus NBC News mengonfirmasi bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait itu mengalami kerusakan parah akibat serangan Iran, termasuk yang dilakukan jet tempur F-5 Tiger II generasi kedua. Pesawat yang diproduksi antara 1960-an hingga 1970-an. Usianya bisa jadi lebih tua dari sebagian pilot yang menerbangkannya.
Bukan hanya Camp Buehring. Kerusakan menyebar ke sejumlah pangkalan strategis AS di kawasan Teluk: Al Dhafra dan Al Ruwais di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, Ali Al Salem di Kuwait, hingga landasan pacu Al Udeid di Qatar. Gedung utama pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain pun kena. Fasilitas penyimpanan amunisi di Irak utara ikut amblas.
Yang rusak bukan infrastruktur kecil. Teheran dilaporkan berhasil menghantam landasan pacu, sistem radar, lusinan pesawat, gudang, pusat komando, hangar, hingga infrastruktur satelit komunikasi. Setidaknya dua sistem pertahanan udara AS ikut tergerus. Penilaian dari American Enterprise Institute memperkirakan biaya perbaikan bisa menembus US$200 juta. NBC News menyebut total kerugian mencapai miliaran dolar.
Bukan angka kecil.
Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar berita kerusakan adalah caranya. Camp Buehring bukan pangkalan sembarangan. Fasilitas itu dilengkapi Rudal Patriot, jaringan radar canggih, dan sistem pengawasan regional yang berlapis. Di atas kertas, salah satu titik paling sulit ditembus di kawasan.
Tapi Iran agaknya sudah menghitung celahnya jauh-jauh hari.
Taktik yang dipakai mengandalkan serangan salvo, kombinasi gelombang drone dan rudal secara bersamaan, sehingga sistem pertahanan udara Camp Buehring kewalahan memprioritaskan ancaman. Jet-jet F-5 lalu menerobos masuk dengan terbang di ketinggian sangat rendah, di bawah jangkauan deteksi optimal radar pangkalan yang sudah kerepotan mencegat drone dan rudal. Ada jendela waktu sekitar 120 detik. Cukup bagi pilot untuk masuk, jatuhkan bom, pergi.
Ini bukan soal kecanggihan pesawat. F-5 jelas kalah jauh dari F-35 atau F-15 yang sempat beroperasi di langit Iran. Iran sendiri sadar betul keterbatasan armadanya. Sebagian besar inventaris tempur mereka terdiri dari pesawat-pesawat renta: F-4 Phantom, F-14 Tomcat warisan era Shah, MiG-29 dan Su-24 dari Rusia, serta F-7 buatan China. Kalau soal spesifikasi, mereka tidak ada di liga yang sama.
Tapi malam itu, taktik mengalahkan teknologi.
Pertanyaannya sekarang sederhana dan tidak nyaman: kalau jet lawas dari era Vietnam bisa membobol pertahanan senilai ratusan juta dolar, apa artinya buat postur pertahanan AS di seluruh kawasan Timur Tengah? Entah kebetulan atau tidak, jawaban atas pertanyaan itu belum ada yang berani bersuara keras dari Washington.