RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  JP Morgan Overweight BBRI, Target Rp3.400 di Juni...

Bisnis

JP Morgan Overweight BBRI, Target Rp3.400 di Juni 2027

Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk pada kuartal II-2026 melampaui ekspektasi analis hingga 21 persen versi JP Morgan, mendorong bank investasi itu memasang rekomendasi overweight dengan target harga Rp3.400 per saham.

Likuiditas dan Permodalan Kokoh, BRI Perkuat Kontribusi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Laba bersih konsolidasian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sepanjang semester I-2026 mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja, terlebih tekanan likuiditas yang masih membayangi sektor perbankan secara umum belum sepenuhnya reda.

JP Morgan, dalam riset tertanggal 31 Agustus 2026 yang disusun Harsh Wardhan Modi dan Daniel Andrew Tan, menyematkan rekomendasi overweight untuk BBRI dengan target harga Rp3.400 per saham, berlaku hingga Juni 2027. Target itu dibangun di atas asumsi normalized return on equity 17,4 persen, risk-free rate 7 persen, cost of capital 15,4 persen, dan terminal growth rate 7 persen menggunakan metode dividend discount model, dengan fair P/BV sebesar 1,24 kali.

Yang membuat riset ini menarik bukan semata rekomendasinya, tapi seberapa jauh kinerja BBRI melampaui proyeksi. JP Morgan mencatat laba kuartal II-2026 BRI 21 persen di atas perkiraan mereka sendiri, dan sekitar 12 persen di atas konsensus pasar. "Kinerja ini terutama didorong oleh sisi biaya, sementara pendapatan hanya 2 persen di atas perkiraan," tulis JP Morgan dalam risetnya. Efisiensi, bukan pertumbuhan topline, yang jadi bintang kuartal ini.

Cost-to-income ratio berada di 41,5 persen, lebih baik dari proyeksi awal. Cost of fund tergerus dari 3 persen pada kuartal II-2025 menjadi 2,4 persen setahun kemudian, ditopang oleh membaiknya komposisi dana murah. Rasio CASA naik dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen, dengan giro tumbuh 8,5 persen dan tabungan 11,3 persen. Deposito? Hanya 0,2 persen. Strukturnya makin sehat.

Dari sisi kualitas aset, arahnya positif. NPL turun dari 3,07 persen ke 2,9 persen. LAR menyusut dari 9,6 persen di akhir 2025 menjadi 9,1 persen pada Juni 2026, dengan coverage meningkat ke 57 persen. BNI Sekuritas, yang merilis riset pada hari yang sama, mencatat kekhawatiran terhadap kualitas aset mulai mereda, "tercermin dari tren penurunan pembentukan NPL."

Satu sinyal yang agaknya paling dinantikan pelaku pasar: penyaluran Kupedes kembali naik. Rp15,6 triliun di kuartal II-2026, naik dari Rp15 triliun kuartal sebelumnya. Kenaikan kuartalan pertama dalam enam kuartal. Kecil secara nominal, tapi sinyal pembalikan tren di segmen inti BBRI nilainya berbeda bagi investor.

Total kredit BRI tumbuh 16,2 persen secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun, dengan total aset menembus Rp2.352 triliun, naik 11,7 persen. Segmen UMKM tetap porsi terbesar dengan portofolio Rp1.235,4 triliun. BRI kini makin aktif menggarap kredit korporasi dan konsumer sebagai sumber pertumbuhan baru.

Di sini ada trade-off yang perlu dicermati. Diversifikasi ke kredit korporasi berpotensi menekan net interest margin, karena segmen itu umumnya menawarkan yield lebih rendah. Ditambah, sebagian besar portofolio BRI menggunakan suku bunga tetap dan semi-tetap, sehingga ruang untuk meneruskan kenaikan cost of funds ke debitur cukup terbatas. LDR versi JP Morgan melonjak ke 104 persen pada kuartal II. Angka yang tidak main-main. Meski Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyebut LDR konsolidasi entitas bank tercatat lebih konservatif di 90,8 persen, masih dalam level ideal intermediasi.

Tapi JP Morgan menilai tekanan-tekanan itu bisa jadi sudah priced in. Valuasi BBRI yang kini berada di bawah minus dua standar deviasi dari rata-rata historis membuka peluang rebound taktis. BNI Sekuritas bahkan memasang target lebih agresif di Rp4.500 per saham untuk horizon tiga bulan, dengan forward PBV satu tahun sekitar 1,4 kali dan forward PE sekitar delapan kali, keduanya juga di kisaran dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, tidak menyembunyikan optimismenya. "Kinerja kami, growth is back, strong, bisa dilihat pertumbuhan laba yang cukup bagus, kualitas pertumbuhan dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kami jaga dan kami yakin ke depan," ujarnya dalam konferensi pers paparan kinerja triwulanan, 31 Agustus 2026. Ia juga menyebut transformasi yang dijalankan manajemen baru secara konsisten mulai menampakkan hasil nyata, dari sisi bisnis, efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko.

Permodalan BRI memberi ruang gerak yang lega. Capital Adequacy Ratio tercatat 21,5 persen pada akhir Juni, jauh di atas batas minimum regulasi. JP Morgan memperkirakan payout ratio dividen akan tetap tinggi mengingat permodalan BRI melebihi kebutuhan pertumbuhan organik. Daya tarik tersendiri bagi investor berorientasi income.

Pertanyaannya, berapa lama tekanan NIM bisa ditoleransi pasar sebelum dianggap sebagai masalah struktural, bukan sekadar siklus?