RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  JPMorgan Upgrade BBRI ke Overweight, Asing Mulai B...

Bisnis

JPMorgan Upgrade BBRI ke Overweight, Asing Mulai Balik Badan

JPMorgan naikkan rekomendasi BBRI ke overweight dengan target harga Rp3.400, sementara investor asing membukukan net buy dua hari berturut-turut. Sinyal pembalikan tren atau sekadar angin segar sesaat?

Asing Borong Saham BBRI Rp 116 Miliar Saat Sesi I Menguat

Valuasi minus dua standar deviasi rupanya terlalu murah untuk diabaikan. JPMorgan akhirnya meng-upgrade saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi overweight dengan target harga Rp3.400, berdasarkan PBV wajar 1,2 kali dari ROE proyeksi 17,4%, risk free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.

Bank investasi AS itu secara eksplisit menyebut bahwa masalah-masalah yang sebelumnya menghantui BBRI kini mulai ditangani, seiring perbaikan internal dan derasnya program pemerintah yang menyasar segmen masyarakat bawah. Segmen yang selama ini justru menjadi lumbung bisnis kredit mikro BRI.

Bukan JPMorgan satu-satunya yang bullish. KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga jauh lebih agresif di Rp4.010, setara PBV 1,8 kali untuk proyeksi 2026. Ambisius, tapi bukan tanpa dasar, mengingat betapa dalamnya koreksi BBRI sepanjang tahun ini.

Secara year to date, saham BBRI masih amblas 16,6%. Tapi pasar mulai bergerak antisipatif. Sejak 15 Juli 2026, saham ini tidak sekali pun ditutup merah, dengan penguatan mingguan mencapai 5,23%. Pada sesi perdagangan Senin (20/7/2026), BBRI ditutup menguat 1,68% ke Rp3.020, nilai transaksi Rp1,20 triliun, frekuensi 61.128 kali.

Yang lebih menarik: perubahan sikap investor asing. Setelah berbulan-bulan konsisten melakukan aksi jual hingga net sell kumulatif 2026 menembus Rp90 triliun, asing tiba-tiba berbalik. Jumat (17/7), net buy asing di seluruh BEI tercatat Rp725 miliar. Senin (20/7), berlanjut dengan net buy Rp156 miliar. Di saham BBRI sendiri, akumulasi beli asing pada sesi I Senin itu menembus Rp116,7 miliar, dengan volume 38,3 juta saham. Ditutup sesi penuh, net buy asing di BBRI mencapai Rp93,36 miliar.

"Memang, dua hari pembelian bersih belum dapat dijadikan bukti bahwa tren telah sepenuhnya berbalik. Namun, kondisi ini layak menjadi perhatian karena dalam banyak siklus pasar sebelumnya, perubahan tren arus dana asing umumnya diawali oleh akumulasi bertahap sebelum berkembang menjadi pembelian dalam skala yang lebih besar," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor, Selasa (21/7/2026).

Katalis lain yang membuat analis optimistis adalah ekspektasi kinerja keuangan kuartal II 2026 yang agaknya akan sesuai harapan, plus perbaikan net interest margin (NIM) seiring berlanjutnya penempatan dana SAL di bank-bank Himbara. JPMorgan memang mengakui tekanan NIM masih ada, terutama karena sebagian portofolio BBRI berbasis suku bunga tetap dan semitetap, ditambah upaya manajemen menggenjot kredit korporasi yang marginnya lebih tipis. Tapi pasar, menurut JPMorgan, sudah memperhitungkan risiko ini sejak kabar penurunan imbal hasil pinjaman PNM tersiar. Setidaknya itu kalkulasi mereka.

Rp3.070 dan Rp3.120. Itu resistance yang dipasang CGS International Sekuritas untuk perdagangan Selasa (21/7), dengan support di Rp2.980 dan Rp2.940. Level support yang cukup jauh di bawah harga saat ini, cermin dari betapa kuatnya momentum beli yang kini sedang terbangun.

Pertanyaannya, apakah upgrade JPMorgan cukup untuk mengundang kembali dana asing dalam jumlah besar? Atau sekadar memantik reli teknikal jangka pendek sebelum fundamental bicara lebih keras di musim laporan keuangan mendatang. Entah kebetulan atau tidak, jawabannya mungkin sudah mulai terbaca dari dua hari net buy berturut-turut itu.