Normalisasi hubungan dengan Israel. Itulah harga yang harus dibayar Arab Saudi jika ingin melanjutkan kesepakatan nuklir sipil yang ditawarkan Washington, demikian pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (23/07). Sederhana diucapkan, tapi implikasinya tidak.
Riyadh sudah lama menetapkan syarat sendiri: normalisasi hanya akan dilakukan kalau Israel serius bergerak menuju pembentukan negara Palestina. Dengan komposisi pemerintahan Israel saat ini yang cenderung garis keras, kecil kemungkinan itu terwujud. Dua syarat yang saling bertabrakan, dan di antara keduanya ada teknologi nuklir senilai miliaran dolar yang menggantung.
Lalu apa sebenarnya isi kesepakatan yang sudah bikin gaduh ini? Secara garis besar, AS menawarkan bantuan pengembangan program energi nuklir sipil kepada Arab Saudi. Kedengarannya biasa saja. Tapi ada detail yang membuat para analis dan legislator di Capitol Hill mengernyitkan dahi: kesepakatan ini bersifat bilateral, hanya antara AS dan Saudi tanpa keterlibatan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan Saudi kemungkinan besar diizinkan memperkaya uraniumnya sendiri.
Itu bukan perkara sepele. Dari sekitar 38 negara yang punya program nuklir sipil, mayoritas memilih mengimpor uranium yang sudah diperkaya ketimbang melakukannya sendiri. Pola inilah yang disebut "standar emas" nonproliferasi nuklir. Semakin tinggi kadar pengayaan uranium, semakin dekat potensinya untuk dialihfungsikan menjadi material senjata. Mohammed bin Salman pernah terang-terangan menyatakan: jika Iran punya bom nuklir, Saudi perlu punya juga.
Pembanding paling relevan ada di sebelah. UEA sudah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah berkat perjanjian dengan AS sejak 2009, dengan syarat yang jauh lebih ketat: protokol tambahan IAEA untuk inspeksi menyeluruh, plus larangan pengayaan uranium mandiri. Kesepakatan Saudi yang lebih longgar ini agaknya tidak akan membuat Abu Dhabi senang, apalagi kedua negara Teluk itu memang sering bersaing memperebutkan pengaruh geopolitik kawasan. Bahkan ada klausul dalam perjanjian UEA yang membuka opsi renegosiasi jika negara tetangga mendapat perlakuan lebih fleksibel. Preseden yang tidak nyaman.
Israel pun tidak tinggal diam. Mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman memperingatkan bahwa "setiap program nuklir militer dimulai dari yang sipil." Bagi Tel Aviv, ini pukulan berlapis: kesepakatan nuklir Saudi dilepas dari syarat normalisasi yang selama ini jadi kartu tawar Israel, sementara prospek jet tempur F-35 ke Turki ikut memperlebar jarak Washington dan Tel Aviv. James Dorsey dari Rajaratnam School of International Studies Singapura menulis bahwa semua ini menambah perbedaan yang sudah menganga antara AS dan sekutu lamanya itu.
Mengapa AS mengusulkan ini sekarang? Ada beberapa kalkulasi yang mungkin bermain sekaligus. Pertama, persaingan dengan Cina dan Rusia yang sudah lebih dulu menawar proyek reaktor nuklir di Saudi, biasanya dengan syarat yang jauh lebih minim. Kedua, Trump punya agenda domestik untuk merevitalisasi industri nuklir AS yang bernilai besar. Ketiga, ada faktor perang Iran. Konflik AS-Israel melawan Iran yang meletus akhir Februari membuat negara-negara Teluk terjepit, dan kesepakatan ini bisa dibaca sebagai cara Washington mengikat Riyadh lebih erat ke orbitnya.
Tapi pengikatan itu, kata Rosemary Kelanic dari Defense Priorities Foundation, ibarat pedang bermata dua. Saudi justru mendapat daya tawar yang makin kuat untuk memeras konsesi dari Washington di masa depan, termasuk jaminan keamanan tambahan, dengan ancaman akan mempersenjatai programnya kalau AS tidak kooperatif. Pola ini bukan tanpa preseden: AS pernah menawarkan perlindungan militer ke Jerman Barat dan Korea Selatan sebagai imbalan agar mereka melepaskan ambisi nuklirnya.
"Memberi Riyadh pengayaan uranium secara fungsional bisa membuat AS terikat dengan Arab Saudi selamanya," tegas Kelanic.
Bagi Iran, ini tamparan tersendiri. Musuh bebuyutannya kini berpotensi mendapat keunggulan awal dalam program nuklir, berkat negara yang justru sedang berperang melawan Teheran. Logika itu membuat kemungkinan gencatan senjata cepat antara AS dan Iran kian tipis, bahkan bisa mendorong Teheran mempercepat program nuklirnya sendiri. Skenario perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah yang selama ini ditakutkan para ahli kini terasa jauh lebih konkret.
Meski begitu, peneliti independen berbasis di Paris, Nour Eid, mengingatkan agar tidak terlalu panik dalam jangka pendek. Dibutuhkan antara 10 hingga 20 tahun bagi Saudi untuk benar-benar mengembangkan tenaga nuklir, apalagi senjata. Waktu yang panjang. Tapi cukup untuk mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara permanen, kalau kesepakatan ini benar-benar ditandatangani.