Gejolak pasar global rupanya tidak mampu meredam selera investasi masyarakat Indonesia.
Data KSEI per Maret 2026 mencatat jumlah investor pasar modal domestik sudah menyentuh 24,74 juta pihak, tumbuh 7,73% secara tahunan. Agaknya lebih solid ketimbang capaian periode yang sama tahun lalu, meski laju pertumbuhannya memang sedikit melambat dari bulan sebelumnya.
Yang langsung terasa korelasinya: lonjakan basis investor itu beriringan dengan kinerja dana kelolaan bank kustodian. Sepanjang awal 2026, layanan penyimpanan aset ini membukukan pertumbuhan sekitar 15% secara industri. Bukan angka kecil, terutama kalau kita ingat betapa ribetnya kondisi makroekonomi global saat ini.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi salah satu yang paling mencolok. Estimasi aset under custody bank milik Grup Djarum ini sudah berada di kisaran Rp540 triliun per kuartal pertama 2026, dengan pertumbuhan 20% year-on-year. Bank Danamon, skalanya memang lebih kecil, juga mencatat ekspansi di atas 10% dengan AUC melampaui Rp100 triliun per Februari 2025. Masif, kalau diukur dari titik awalnya.
Lantas apa yang bikin bisnis ini tetap tangguh sementara banyak segmen lain tersengat volatilitas?
Strategi bank kustodian belakangan ini tidak melulu soal memperluas volume. Diversifikasi layanan administrasi untuk reksa dana terbuka hingga kontrak pengelolaan portofolio efek menjadi salah satu pilar. Sinergi dengan manajer investasi juga dipererat, sehingga jangkauan produk yang dikelola terus melebar.
Ada faktor lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja: kepercayaan. Investor, baik ritel maupun institusi, butuh kepastian bahwa aset mereka tersimpan aman dan teradministrasi dengan benar, bukan sekadar janji di atas brosur. Sentimen wait and see yang masih menyelimuti pasar akibat ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga global justru membuat keberadaan kustodian yang andal terasa seperti jangkar. Pertanyaannya: berapa lama investor bisa terus bersikap defensif sebelum akhirnya berani masuk lebih dalam?
Teknologi ikut mendorong. Standar keamanan dalam penatausahaan surat berharga, termasuk efek yang diterbitkan di luar negeri, kian jadi diferensiasi penting seiring portofolio investor domestik yang makin terintegrasi ke pasar global.
Target penghimpunan aset hingga akhir 2026 tetap dipatok tinggi oleh pelaku industri. Entah kebetulan atau tidak, momentum ini beriringan dengan tren melek investasi yang terus merayap naik di kalangan generasi muda. Fondasi permintaan jangka panjangnya, setidaknya untuk saat ini, terlihat cukup kokoh.