Sistem pertahanan udara Kuwait bergerak mencegat target-target udara bermusuhan yang terdeteksi masuk dari arah wilayah Iran, Kamis (11/6) dini hari waktu setempat. Berselang cepat, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait mengumumkan penutupan ruang udara mulai pukul 04.50, mengalihkan sejumlah penerbangan ke bandara-bandara alternatif sampai "bahaya benar-benar dihilangkan."
Staf Umum Militer Kuwait merilis pernyataan resmi yang menyebut sistem pertahanan udara tengah menghadapi "target-target udara yang bermusuhan, sesuai prosedur operasional yang telah ditetapkan." Warga Kuwait diminta mematuhi instruksi keamanan dari otoritas setempat dan hanya mengikuti informasi dari sumber resmi.
Bukan eskalasi pertama. Sepekan sebelumnya, Rabu (3/6), terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait dihajar serangan drone hingga mengalami kerusakan parah. Lebih dari 60 orang terluka, terdiri dari penumpang dan staf bandara. Cukup untuk bikin Kuwait berjaga penuh.
Eskalasi malam ini tidak berdiri sendiri. AS lebih dulu melancarkan gelombang serangan ke sejumlah target di Iran bagian selatan, menyasar kemampuan pengintaian militer, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara. Washington menyebut aksi itu sebagai "serangan pertahanan diri" atas apa yang diklaim sebagai agresi tidak beralasan dari Teheran. Gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku sejak awal April agaknya tinggal nama.
Teheran punya versi yang sama sekali berbeda. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menuding AS berada di balik serangan drone ke bandara Kuwait awal Juni, bukan sebagai serangan sungguhan, melainkan operasi pengelabuan alias false-flag. "Kepingan-kepingan teka-teki ini mulai terungkap dengan sangat cepat. Mereka melakukan operasi pengelabuan dengan mengerahkan drone tiruan Lucas untuk menyerang Bandara Kuwait, menciptakan alasan sempurna untuk memasarkan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Powerus dengan dalih melindungi diri dari serangan Iran. Sangat menguntungkan!" tulis Baqaei di platform X pada 9 Juni.
Klaim yang butuh bukti, tentu. Narasi itu sejalan dengan pernyataan Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi, yang sebelumnya menegaskan militer Iran tidak menembakkan rudal apa pun ke arah terminal bandara. Kerusakan di Kuwait, kata Mohebbi, lebih mungkin bersumber dari kesalahan operasional sistem pertahanan udara Patriot, versi yang jelas-jelas menguntungkan Teheran secara retoris.
Militer Iran sudah terang-terangan mengancam akan memberi respons "menghancurkan dan tegas" terhadap setiap agresi AS di kawasan. Serangan malam ini tampaknya bukan gertakan kosong.
Bagi Kuwait, posisinya ibarat berdiri di antara dua kereta yang melaju kencang dari arah berlawanan. Ruang udara yang sudah dibuka pun bisa sewaktu-waktu ditutup lagi.