RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kuwait dan Bahrain Balas Diam-diam, Kawasan Teluk...

Internasional

Kuwait dan Bahrain Balas Diam-diam, Kawasan Teluk Kian Mendidih

Jet tempur Bahrain dan Kuwait dilaporkan menyerang fasilitas militer Iran sebagai respons atas gempuran berpekan-pekan yang mengincar pangkalan AS dan infrastruktur sipil di kedua negara. Kuwait membantah, Bahrain bungkam.

Iran Menargetkan Pangkalan Udara AS, Media Iran Melaporkan Pertahanan Udara Kuwait Diaktifkan

Sirene peringatan udara yang membelah malam di Kuwait pekan ini bukan sekadar alarm rutin. Di balik suara itu tersimpan babak baru eskalasi yang agaknya sudah lama tertahan: dua negara Teluk kecil, Bahrain dan Kuwait, akhirnya membalas.

Wall Street Journal melaporkan bahwa jet-jet tempur kedua negara tersebut menyerang sejumlah fasilitas militer Iran awal bulan ini, termasuk depot penyimpanan drone dan rudal milik Teheran. Serangan ofensif pertama yang pernah dilakukan Bahrain dan Kuwait langsung ke wilayah Iran. Diam-diam, tanpa pengumuman.

Bukan keputusan impulsif. Selama berminggu-minggu, Iran secara konsisten menghajar dua negara tuan rumah pangkalan militer AS tersebut. Puncaknya, pada 19 Juli 2026, Kuwait resmi melaporkan bahwa Iran menyasar pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di wilayahnya. Infrastruktur sipil, bukan instalasi militer. Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan itu sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan warga sipil dan bentuk eskalasi yang berbahaya.

Dengan armada udara yang jauh lebih kecil dari Iran, Bahrain dan Kuwait tetap memilih merespons secara militer. Pilihan yang, menurut analis Timur Tengah Bloomberg Economics Dina Esfandiary, bisa dipahami mengingat hubungan kedua negara dengan Teheran yang memang tidak pernah harmonis selama berpuluh tahun.

Operasi ini tidak berjalan sendiri. UEA turun tangan memberikan dukungan intelijen mengenai target serta perlindungan udara defensif bagi Bahrain dan Kuwait. Abu Dhabi sendiri sudah lebih dulu agresif, dengan puluhan serangan udara ke Iran sejak perang pecah hingga sesaat setelah pengumuman gencatan senjata April lalu.

Malam Kamis kemarin membuktikan Iran belum benar-benar berhenti. Sistem pertahanan udara Kuwait diaktifkan untuk mencegat drone dan rudal yang disebut berasal dari Teheran, termasuk serangan yang diarahkan ke Pangkalan Udara Al-Salem, fasilitas strategis yang digunakan bersama oleh Angkatan Udara Kuwait dan militer AS. Sistem Patriot di pangkalan itu pun beroperasi penuh. Perlintasan perbatasan Abdali, titik masuk utama dari Irak, ikut dihantam drone berulang kali. "Kerusakan material ada, tapi tidak ada korban jiwa," demikian pernyataan Brigadir Jenderal Saud Abdulaziz Al-Otaibi, juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait.

Respons diplomatik langsung bergejolak setelah laporan serangan balik itu bocor ke publik. Duta Besar Kuwait untuk AS, Al-Zain Al-Sabah, membantah tegas. "Negara Kuwait tidak berpartisipasi dalam operasi militer apa pun terhadap Iran, dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk meluncurkan operasi ofensif terhadap negara tetangga mana pun," tegasnya. Bahrain memilih bungkam. Pemerintah UEA menyuarakan keprihatinan atas tensi yang kian tinggi, mengecam serangan ke Kuwait dan Bahrain, dan menegaskan solidaritas penuh terhadap kedua negara itu sambil mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas ekspor minyak.

Bantahan Kuwait itu menarik, kalau data dari WSJ bisa dipercaya. Laporan itu mengacu pada sumber-sumber yang mengetahui langsung operasi tersebut. Entah kebetulan atau tidak, bantahan itu keluar persis ketika drone Iran masih melayang di langit Kuwait malam yang sama.

Kawasan Teluk sedang berubah dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya: negara-negara Arab kecil kini tidak lagi puas hanya dengan sistem Patriot dan kecaman di podium. Pertanyaannya tinggal satu. Sampai mana Teheran akan membiarkan siklus saling serang ini berlanjut sebelum kalkulasinya berubah.