Sepanjang lima bulan pertama 2026, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membuktikan mesin pertumbuhannya masih berputar kencang. Laba bersih bank only menembus Rp23,31 triliun per Mei 2026, naik 18,64 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Khusus bulan Mei, laba bulanan mencapai Rp5,26 triliun, terkerek 17,64 persen dari bulan sebelumnya.
Konteksnya lebih menarik dari sekadar angkanya.
Porsi terbesar pendorong profitabilitas datang dari ekspansi kredit yang agresif. Total pembiayaan bank only mencapai Rp1.579,94 triliun per Mei 2026, tumbuh 20,64 persen YoY. Bandingkan dengan rata-rata industri perbankan nasional per April 2026 yang hanya 9,98 persen YoY berdasarkan data Bank Indonesia. BMRI tumbuh lebih dari dua kali lipat kecepatan industri, sebuah laju yang, kalau data ini bisa dipercaya berlanjut, akan jadi salah satu cerita paling menarik di sektor perbankan paruh kedua tahun ini.
Tren itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Per Maret 2026, kredit bank only sudah menyentuh Rp1.530 triliun dengan pertumbuhan 17,4 persen YoY. Akselerasi justru menguat di April dan Mei, bukan melambat.
Dari sisi pendapatan, bunga yang diraup naik 5,77 persen YoY menjadi Rp52,77 triliun. Beban bunga malah menyusut 1,54 persen YoY menjadi Rp17,91 triliun, melanjutkan tren turun tiga bulan berturut-turut. Kombinasi keduanya mendorong net interest income (NII) naik 9,97 persen YoY ke Rp34,85 triliun. Fee based income melesat 24,44 persen YoY menjadi Rp9,36 triliun.
Kualitas aset, agaknya, menjadi storyline terkuat di laporan ini. Beban provisi turun 15,83 persen YoY menjadi Rp3,21 triliun, dan ini bukan anomali satu bulan, melainkan tren yang sudah berjalan 17 bulan beruntun. Cost of credit (CoC) bertahan di 0,50 persen untuk periode lima bulan, jauh di bawah target manajemen sendiri di kisaran 0,6 hingga 0,8 persen. Bukan main.
Dana pihak ketiga (DPK) ikut meledak, tumbuh 22 persen YoY menjadi Rp1.716,31 triliun per Mei 2026. Salah satu pendorongnya: lonjakan deposito 57,01 persen YoY menjadi Rp493,79 triliun. Kenaikan deposito yang masif ini berdampak pada rasio CASA yang tergerus dari 76,36 persen pada Agustus 2025 menjadi 71,23 persen per Mei 2026. Likuiditas tetap terjaga, tecermin dari LDR di level 92,05 persen, masih di bawah batas internal 95 persen yang dipatok manajemen.
Direktur Treasury dan International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi menyampaikan optimisme manajemen soal prospek sepanjang tahun ini. "Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan kinerja yang solid sepanjang 2026. Kami akan terus menjalankan strategi bisnis secara disiplin dan terukur, sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," kata Ari dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Mei lalu.
BMRI juga aktif di lini program pemerintah. Realisasi KUR mencapai Rp11 triliun hingga kuartal I 2026, menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM. Sekitar 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam program Makan Bergizi Gratis menggunakan virtual account BMRI, dan bank ini membiayai sekitar 2.300 unit hunian dalam Program 3 Juta Rumah.
Satu yang perlu dicermati: NIM bank only termoderasi ke 3,98 persen, sementara target konsolidasi manajemen berada di 4,6 hingga 4,8 persen hingga akhir 2026. Ada gap yang harus ditutup dalam tujuh bulan ke depan. ROA tercatat 2,50 persen dan ROE di 21,50 persen per Mei 2026, solid meski sedikit di bawah angka ROE konsolidasi 22,1 persen yang dibukukan per Maret.
Paradoksnya, semua rapor kinclong itu tidak cukup untuk mengangkat harga sahamnya. BMRI ditutup melemah ke Rp4.250 pada Kamis (11/6/2026), dan secara year to date sudah amblas 16,67 persen. Dalam setahun terakhir, nilai sahamnya terpangkas hampir seperlima, tepatnya 19,05 persen. Pasar, entah kebetulan atau tidak, agaknya sedang membaca sesuatu yang belum terefleksi di laporan keuangan.