RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Lelang CPO KPBN Berakhir Withdraw, Bursa Malaysia...

Bisnis

Lelang CPO KPBN Berakhir Withdraw, Bursa Malaysia Juga Diam di Tempat

Perdagangan CPO di KPBN pada Selasa (28/4) berakhir withdraw dengan harga tertinggi Rp 15.122/kg, turun 2,18% dari sehari sebelumnya. Di Bursa Malaysia, pergerakan cenderung stagnan di kisaran MYR 4.505/ton di tengah sinyal yang saling bertolak belakang.

Harga minyak sawit mentah (CPO) di lelang PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Selasa (28/4/2026) berakhir tanpa transaksi. Withdraw.

Penawaran tertinggi yang masuk hanya menyentuh Rp15.122/kg, turun Rp337/kg atau sekitar 2,18% dari harga Senin sebelumnya di Rp15.459/kg. CPO Franco Dumai dibuka di Rp15.325/kg, tapi tidak ada kesepakatan yang lahir dari sana. CPO FOB Talang Duku juga sama: dibuka Rp15.125/kg, penawaran tertinggi cuma Rp14.900/kg. Buyer dan seller tidak ketemu. Titik.

Di Bursa Malaysia Derivatives, ceritanya tidak terlalu berbeda. Harga CPO bergerak stagnan di kisaran MYR4.505 per ton, terjepit dua kekuatan yang saling membatalkan: pelemahan harga minyak nabati di bursa komoditas Dalian menekan permintaan, sementara penguatan harga minyak mentah global seharusnya jadi katalis positif karena membuat CPO lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Hasilnya? Pasar diam.

Tekanan fundamentalnya agaknya lebih dalam dari sekadar satu sesi lesu. Permintaan global belum pulih, dan produksi mulai merayap naik menjelang siklus panen raya di Indonesia dan Malaysia. Kombinasi yang tidak ramah bagi harga. Bukan musim yang ideal untuk bulls CPO.

Bagi investor saham sektor perkebunan, gambaran ini belum tentu sinyal jual otomatis. Dua faktor penyeimbang kerap disebut analis: sentimen geopolitik yang masih menopang permintaan energi alternatif, dan kemungkinan pelonggaran BI Rate yang bisa meringankan beban emiten berbasis komoditas dengan utang rupiah. Kalau suku bunga turun dan rupiah terjaga, margin emiten CPO dalam negeri tidak akan tergerus terlalu dalam meski harga acuan global sedang loyo.

Saham-saham perkebunan di BEI patut dicermati lebih cermat dari sekadar cerminan harga di Kuala Lumpur. Sebagian valuasi sudah memperhitungkan tekanan jangka pendek, dan bisa jadi justru ada ruang akumulasi bagi investor dengan horizon menengah, kalau data ini bisa dipercaya.

Selama buyer dan seller di KPBN belum juga ketemu, sinyal pemulihan masih perlu ditunggu.