RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Macron: Klausul Pertahanan EU Lebih Kuat dari Pasa...

Internasional

Macron: Klausul Pertahanan EU Lebih Kuat dari Pasal 5 NATO

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan klausul pertahanan bersama Uni Eropa lebih kuat dari Pasal 5 NATO, seraya menyebut insiden Siprus sebagai bukti nyata efektivitasnya.

Macron sedang tidak bercanda.

Ketika berkunjung ke Athena untuk memperbarui perjanjian pertahanan bilateral dengan Yunani, Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali melempar pernyataan yang agaknya sengaja dirancang untuk membuat Brussels dan Washington sama-sama menoleh. Klausul bantuan timbal balik dalam perjanjian Uni Eropa, tegasnya, "lebih kuat" ketimbang Pasal 5 NATO, klausul pertahanan kolektif yang selama ini dianggap tulang punggung keamanan transatlantik.

Bukan retorika kosong. Macron menunjuk insiden konkret: pangkalan udara Inggris di Siprus dihajar drone pada 28 Februari, dan sejumlah negara anggota EU langsung bergerak mengirimkan bantuan militer. Itu, menurutnya, bukti bahwa Pasal 42 ayat 7 perjanjian EU bukan cuma teks hukum yang tertidur di laci.

"Mengenai pasal 42, ayat 7, ini bukan sekadar kata-kata," ujar Macron. "Kami tahu bahwa bagi kami, itu jelas dan tidak ada ruang untuk interpretasi atau ambiguitas."

Konteksnya tidak bisa dilepaskan dari Washington. Di bawah Trump yang kembali berkuasa, komitmen AS terhadap NATO terasa seperti saham volatil, naik-turun tergantung suasana hati penguasa Gedung Putih. Macron, yang sudah bertahun-tahun mendorong otonomi strategis Eropa, kini seperti mendapat angin. Ia bahkan terang-terangan menyebut pendekatan AS saat ini "akan bertahan lama", setidaknya itu klaimnya, sebuah posisi yang, kalau data ini bisa dipercaya, seolah membenarkan seluruh doktrin pertahanan mandiri yang ia perjuangkan sejak lama.

Sehari sebelumnya, para pemimpin EU berkumpul di Siprus dalam pertemuan informal untuk menyempurnakan rencana teknis bagaimana klausul tersebut bisa benar-benar berfungsi di lapangan. Presiden Dewan Eropa António Costa menyebut pihaknya sedang merancang semacam buku panduan operasional. "Kami sedang merancang buku panduan [tentang] bagaimana menggunakan klausul bantuan timbal balik ini," kata Costa.

Pertanyaannya tetap terbuka: seberapa jauh anggota EU yang juga anggota NATO, sebagian besar dari mereka, bersedia menempatkan loyalitas Eropa di atas payung Washington? Prancis mungkin sudah punya jawabannya. Negara-negara Baltik yang berbatasan langsung dengan Rusia, bisa jadi belum.