Rancangan regulasi Uni Eropa yang berbulan-bulan mandek itu kini makin nyata bentuknya. Beijing mulai gerah.
Maret lalu, blok 27 negara tersebut merilis kerangka awal aturan "Made in Europe", yang mewajibkan perusahaan yang ingin mengakses dana publik di sektor-sektor strategis, seperti kendaraan listrik, teknologi hijau, dan baja, untuk memenuhi ambang batas minimum kandungan komponen buatan Eropa. Proposal yang kini dikenal sebagai Undang-Undang Akselerator Industri ini selangkah lebih jauh: perusahaan asing yang ingin mendirikan usaha di kawasan UE diwajibkan bermitra dengan entitas Eropa dan mentransfer pengetahuan teknologi mereka.
Target implisitnya? Produsen baterai dan mobil listrik asal China.
Kementerian Perdagangan China tidak menunggu lama. Jumat pekan lalu, mereka secara resmi mengajukan komentar kepada Komisi Eropa, menyatakan "keprihatinan serius" atas arah kebijakan tersebut. Juru Bicara He Yongqian menegaskan UE harus mempertimbangkan secara sungguh-sungguh amandemen yang diusulkan Beijing, atau China siap mengambil tindakan balasan berdasarkan kerangka hukum perdagangan domestiknya.
"Jika Uni Eropa tetap melanjutkan legislasi tersebut dan merugikan kepentingan perusahaan-perusahaan China, China tidak akan punya pilihan selain mengambil tindakan balasan," bunyi pernyataan resmi kementerian, Senin (27/4).
Ancaman yang bukan pertama kali diucapkan. Tapi kali ini nadanya lebih tajam.
Ketegangan ini bukan semata soal mobil listrik. Revisi Undang-Undang Keamanan Siber UE ikut memantik reaksi Beijing. China menilai sejumlah ketentuan dalam rancangan regulasi itu berpotensi mendiskriminasi perusahaan-perusahaannya secara sistemik, sebuah frasa yang dipakai Kementerian Perdagangan China cukup keras: "diskriminasi sistemik".
Dari sudut pandang Eropa, langkah ini bukan sekadar proteksionisme. Bisnis-bisnis Eropa di sektor yang disorot proposal tersebut sudah lama mengeluhkan persaingan yang mereka anggap tidak adil dari pesaing China yang menikmati subsidi besar-besaran dari negara. Undang-Undang Akselerator Industri, dalam narasi Brussels, adalah bagian dari upaya mendapatkan kembali keunggulan kompetitif, menekan laju deindustrialisasi, dan mencegah ratusan ribu pekerja kehilangan pekerjaan.
Strategi "de-risking" yang diam-diam sudah dijalankan Eropa kini menemukan payung hukumnya.
Kamar Dagang China untuk UE sudah membunyikan alarm lebih awal. Bulan ini mereka menyebut rencana tersebut menandai pergeseran nyata menuju proteksionisme yang akan merusak ekosistem perdagangan bilateral kedua pihak.
Pertanyaan yang belum terjawab: seberapa jauh Eropa akan konsisten menjalankan aturan ini, kalau banyak anggota blok yang investasinya masih sangat bergantung pada modal dan pasar China? Jawaban itulah yang kini sedang ditunggu, baik oleh pelaku industri di Frankfurt maupun Shanghai.