Dalam 24 jam pertama serangannya ke Iran, militer Amerika Serikat menghancurkan lebih dari 1.000 target. Angka itu bukan sekadar statistik perang, hampir dua kali lipat skala invasi Irak lebih dari dua dekade silam yang dulu dianggap operasi paling ambisius dalam sejarah modern.
Di balik presisi yang sulit masuk akal itu, ada mesin yang bekerja tanpa tidur.
Namanya Maven Smart System, sistem kecerdasan buatan yang dibangun oleh Palantir dengan dukungan teknologi dari Microsoft, Amazon, hingga Anthropic. Maven menyintesis citra satelit, data radar, pantauan media sosial, dan puluhan sumber intelijen lain menjadi satu peta target yang siap dieksekusi. Proses yang dulu memakan waktu berjam-jam kini selesai dalam hitungan detik. Seorang pejabat militer AS mengungkap kepada jurnalis Katrina Manson bahwa Maven memungkinkan lompatan kapasitas dari di bawah 100 target per hari menjadi 1.000. Dengan tambahan teknologi large language model, angka itu bisa melesat ke 5.000 target harian.
Bukan angka kecil.
Manson, yang baru merilis buku Project Maven: A Marine Colonel, His Team, and the Dawn of AI Warfare, membedah bagaimana sistem ini tumbuh dari eksperimen sederhana tahun 2017, awalnya untuk menerapkan computer vision pada rekaman drone. Google sempat menjadi kontraktor utamanya sebelum mundur akibat gelombang protes dari ribuan karyawannya sendiri. Tongkat estafet diambil alih oleh perwira intelijen Marinir Drew Cukor, dan Palantir yang akhirnya membangun sistem tersebut hingga kini digunakan di seluruh cabang militer AS, termasuk NATO yang ikut mengadopsinya belakangan.
Kecepatan ini, ironisnya, juga yang membunuh.
Satu dari seribu target yang digempur pada hari pertama perang Iran adalah sebuah sekolah perempuan. Lebih dari 150 orang tewas, mayoritas anak-anak. Fasilitas itu memang pernah menjadi bagian pangkalan angkatan laut Iran, tapi statusnya sudah berubah secara daring, dan citra satelit bahkan menunjukkan taman bermain yang jelas terlihat di sana. Sistem gagal membaca perubahan fungsi itu. Celah data, digabung dengan kecepatan AI, menghasilkan tragedi yang tidak bisa ditarik kembali.
Sejarawan teknologi Kevin Baker, menulis di The Guardian, menolak menyalahkan AI-nya secara langsung. "Bukan chatbot yang membunuh anak-anak itu. Manusia gagal memperbarui basis data, dan manusia lain membangun sebuah sistem yang bekerja terlalu cepat sehingga membuat kegagalan data tersebut menjadi mematikan," tulis Baker. Klaim yang sekaligus menyeramkan justru karena terdengar masuk akal.
Di luar tragedi itu, perombakan industri pertahanan AS sedang berjalan. Pemerintahan Trump mulai bergeser dari kontraktor-kontraktor besar lama seperti Lockheed Martin, RTX, dan Northrop Grumman, yang secara gabungan masih membukukan penjualan delapan kali lebih besar dibanding pemain baru, menuju kelompok yang mereka sebut "neo-primes": Palantir, SpaceX, dan Anduril.
Maret lalu, sistem Maven resmi mendapat status programme of record, yang mengunci pendanaan jangka panjang. Di bulan yang sama, Angkatan Darat AS merampingkan kontrak dengan Anduril menjadi satu paket senilai hingga US$20 miliar atau sekitar Rp342,7 triliun untuk 10 tahun ke depan. Emil Michael, mantan eksekutif Silicon Valley yang kini menjabat pejabat senior di Pentagon, menilai logika lama perang sudah tidak relevan. Rudal US$1 juta untuk menembak jatuh drone US$50.000 adalah kalkulasi yang salah kaprah.
Investor tampaknya sepakat. Nilai gabungan Palantir, SpaceX, dan Anduril kini melampaui tiga kali lipat valuasi tiga kontraktor tradisional terbesar. Anduril bahkan sedang menggalang dana dengan valuasi US$60 miliar, meski penjualan tahun lalu hanya sekitar US$2 miliar dan perusahaan itu masih merugi. SpaceX diperkirakan akan segera melantai lewat IPO yang bisa menjadi terbesar sepanjang sejarah bursa.
Tapi euforia ini menyimpan risiko yang agaknya belum banyak dipikirkan.
Anduril baru mulai membangun kapasitas manufaktur skala besar, termasuk pabrik di Ohio senilai US$1 miliar. Kemampuannya menaikkan produksi hingga mendekati skala kontraktor tradisional masih belum teruji. Ada juga pertanyaan soal dependensi: Pentagon ingin sistem persenjataan yang saling terhubung, tapi itu berarti ketergantungan besar pada satelit SpaceX dan sistem manajemen perang Palantir. Bak pedang bermata dua.
Manson melaporkan bahwa militer AS kini mengembangkan senjata yang sepenuhnya otonom, drone jet ski bermuatan bahan peledak yang mampu melacak dan menghancurkan target tanpa perlu konfirmasi manusia. Perang bergerak dari hitungan jam ke detik, dan kini sedang bergerak menuju nol keterlibatan manusia.
Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat mesin ini bisa bekerja. Pertanyaannya adalah ketika sistem keliru dan tidak ada jeda untuk koreksi, siapa yang menanggung risikonya. Entah kebetulan atau tidak, pertanyaan itu sampai sekarang belum ada yang mau menjawab.