Paseo de la Reforma, jalan protokol paling ikonik di Mexico City, berubah jadi lautan massa pada Rabu (3/6/2026). Bukan untuk merayakan Piala Dunia yang tinggal delapan hari lagi, melainkan untuk memprotes pemerintah yang dituding ingkar janji selama bertahun-tahun.
Gelombang demonstrasi itu datang dari berbagai sudut kota sekaligus. CNTE, Komite Koordinasi Nasional Pekerja Pendidikan, sayap pembangkang serikat guru nasional, memimpin barisan terdepan. Mereka memblokade Insurgentes dan Paseo de la Reforma, dua nadi lalu lintas tersibuk kota itu, hingga jutaan warga terjebak kemacetan parah dengan rute perjalanan yang kacau. Pensiunan hakim dan pejabat pengadilan ikut turun menuntut pesangon dan pensiun pascareformasi peradilan 2024. Kelompok pekerja seks dari kawasan Tlalpan pun bergabung, membawa spanduk bertuliskan "Kami menginginkan perumahan, kami tidak peduli dengan Piala Dunia."
Akar persoalan para guru sebetulnya panjang. Mereka menuntut pembatalan undang-undang 2007 yang merombak sistem pensiun dan jaminan sosial pekerja sektor publik, plus kenaikan gaji. Dua presiden berturut-turut, Andres Manuel Lopez Obrador dan penggantinya Claudia Sheinbaum, disebut pernah berjanji memenuhi tuntutan itu saat kampanye. Tidak pernah terealisasi. "Ada kebijakan untuk mengulur waktu, membuat komitmen yang tidak pernah benar-benar ditepati. Kami akan terus memobilisasi massa sampai didengar, bahkan dengan Piala Dunia yang sudah di depan mata," tegas Rodrigo Arias, guru asal Oaxaca yang telah mengajar 40 tahun, saat berbicara di luar Kementerian Dalam Negeri.
Sehari sebelumnya, situasi sudah memanas duluan. Pengunjuk rasa merobohkan patung-patung raksasa pesepak bola di sekitar Paseo de la Reforma. Bentrokan dengan polisi antihuru-hara dilaporkan terjadi, lima demonstran terluka, satu di antaranya guru, setelah aparat diduga menggunakan gas air mata dan peluru karet. Otoritas Mexico City membantah soal peluru karet itu. Para guru tidak percaya begitu saja, dan keesokan harinya justru kembali ke depan kantor Kementerian Dalam Negeri untuk mengecam kekerasan tersebut. Sejumlah toko sepanjang jalan protokol mulai memasang pagar besi dan kayu.
Nasib kelompok pekerja seks dari Tlalpan boleh jadi paling terlupakan dari seluruh keramaian itu. Mereka mengklaim proyek konstruksi yang dikebut demi Piala Dunia telah mengusir mereka dari kawasan tersebut, memangkas pendapatan hingga 90%. Seorang aktivis menyebut kompensasi yang dijanjikan undang-undang konstruksi untuk dampak proyek besar tidak pernah mereka terima. "Mereka bilang Piala Dunia akan mendongkrak industri seks. Tapi sebaliknya, kami sangat khawatir soal perdagangan manusia dan prostitusi paksa," ungkap Ilse Victoria, salah satu peserta aksi.
Filiberto Frausto, pemimpin serikat pekerja lainnya, menyentil sisi lain dari pesta bola ini. Ruang-ruang publik Mexico City, kata dia, sedang diprivatisasi demi kepentingan korporasi besar yang berdiri di balik turnamen. "Jika tidak ada solusi, bola tidak akan bergulir," ancamnya. Kalimat pendek. Tapi cukup keras.
Sheinbaum tampil tenang. Dalam konferensi pers, ia menegaskan tidak akan memerintahkan penindakan keras terhadap demonstran, dan bahwa dialog sedang berjalan. "Ada beberapa tuntutan yang tidak dapat kami penuhi sepenuhnya dengan anggaran. Namun ada yang bisa kami penuhi," jelasnya. Pragmatis, bisa jadi. Tapi bagi para guru yang sudah menunggu bertahun-tahun, itu terdengar seperti janji kesekian.
Kondisi fisik kota pun belum beres. Renovasi Bandara Internasional Benito Juarez masih berjalan, sistem kereta metro dan sejumlah jalan utama belum rampung diperbaiki. Pada Selasa, struktur besi jembatan penyeberangan di bandara itu runtuh dan melukai seorang pengendara. Meksiko dijadwalkan menggelar 13 pertandingan Piala Dunia 2026, lima di antaranya di Mexico City, termasuk laga pembuka Meksiko kontra Afrika Selatan di Stadion Azteca pada 11 Juni.
Delapan hari tersisa. Kota ini harus menuntaskan konstruksi, meredam amarah jalanan, dan sekaligus menggelar pesta bola terbesar sedunia. Pertanyaannya, mana yang lebih dulu kelar?