RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Minyak Goreng Merangkak di 224 Daerah, Bawang Mera...

Bisnis

Minyak Goreng Merangkak di 224 Daerah, Bawang Merah Paling Merata Naiknya

BPS mencatat tekanan harga pangan makin meluas di penghujung April 2026. Minyak goreng, gula, beras, hingga bawang merah kompak bergerak naik di ratusan kabupaten/kota.

Dua ratus dua puluh empat kabupaten/kota. Itulah jumlah daerah yang mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga minyak goreng pada pekan keempat April 2026, naik dari 207 daerah sepekan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik merilis data ini dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (27/4). Setara 62,22 persen wilayah Indonesia, dan trennya belum berbalik.

Secara rata-rata nasional, harga minyak goreng dari seluruh kualitas, eh, maksudnya: curah, premium, dan Minyakita, naik 1,50 persen dibanding Maret 2026. Harganya bergerak dari Rp19.358 menjadi Rp19.648 per liter. Yang paling babak belur adalah segmen curah: melonjak 3,24 persen dari Rp18.277 ke Rp18.870 per liter. Minyak goreng kemasan premium ikut terkerek 1,68 persen ke Rp22.650 per liter, dari posisi Rp22.276.

Minyakita? Nyaris tidak bergerak. Naik Rp4 per liter, dari Rp16.353 ke Rp16.357.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut perkembangan ini perlu diwaspadai. "Ini yang perlu mendapat perhatian. Karena perubahan kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH-nya cukup banyak. Di minggu ketiga April hanya ada 207 kabupaten/kota, sekarang sudah 224 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH-nya di minggu keempat April 2026," kata Ateng.

Lonjakan harga paling ekstrem tercatat di pedalaman Papua. Kabupaten Intan Jaya tembus Rp60 ribu per liter, Pegunungan Bintang Rp50 ribu, dan Puncak Jaya Rp42.500 per liter. Angka yang bisa membuat orang Jakarta lupa bersyukur.

Gula pasir nasional ikut amblas ke atas: naik 1,50 persen dari Rp18.488 menjadi Rp18.765 per kg. "Untuk gula pasir, ini juga mengalami peningkatan pada Minggu ke-4 April sebesar 1,50 persen. Kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH-nya itu ada 185," ujar Ateng. Naik dari 171 daerah pada bulan lalu.

Beras pun mulai berbicara. Harga beras medium naik 0,47 persen ke Rp14.321 per kg, dari Rp14.255 sebelumnya. Beras premium menyentuh Rp16.074 per kg, naik 0,34 persen. Yang bikin dahi berkerut: jumlah daerah dengan kenaikan IPH beras sudah 109 kabupaten/kota, hampir 50 persen lebih banyak ketimbang Januari yang hanya 72 daerah. Empat bulan berturut-turut. Agaknya bukan sekadar fluktuasi musiman.

Cabai merah masih merangkak di 137 kabupaten/kota. Secara nasional masih dalam rentang acuan, tapi ada pengecualian mencolok: Kabupaten Kepulauan Tanimbar mencatat Rp116.842 per kg.

Ada sedikit napas lega. Telur ayam ras turun 1,57 persen secara nasional, dan daging ayam ras terkoreksi 3,07 persen. Tapi jangan buru-buru senang, karena di masing-masing komoditas itu masih ada puluhan kabupaten yang justru mencatat kenaikan: 98 daerah untuk telur, 89 untuk ayam. "Turun" di sini perlu dibaca dengan catatan.

Satu komoditas yang tekanannya paling merata justru bawang merah, dengan 227 kabupaten/kota mencatat kenaikan IPH. Terluas di antara semua komoditas pangan yang dipantau BPS.

Bagi investor di sektor consumer staples dan ritel, data ini bisa jadi sinyal dua arah: margin emiten yang bergantung bahan baku pangan bakal tergerus, tapi emiten dengan pricing power kuat justru berpotensi mendongkrak pendapatan. Pertanyaannya, mana yang masuk kategori mana?