Tiga bulan absen dari hadapan publik, Benjamin Netanyahu akhirnya muncul di podium dan langsung mengklaim kemenangan. Perang enam minggu yang dilancarkan Israel bersama Amerika Serikat terhadap Iran sejak 28 Februari, katanya, telah berhasil melumpuhkan program nuklir Teheran dan menghancurkan kapasitas rudal balistiknya. Klaim yang, bagi sebagian kalangan di Israel sendiri, terasa janggal.
Sebab rezim Iran masih berdiri.
Netanyahu memang tidak kekurangan amunisi retorika. Dalam konferensi persnya, ia menyebut operasi ini sebagai "serangan terbesar dalam sejarah Israel" yang menargetkan ilmuwan nuklir, menghancurkan fasilitas pengayaan, melumpuhkan angkatan laut dan udara Iran, hingga menghabisi sejumlah komandan militer. Kerusakan ekonomi Iran pun diklaim masif. "Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Selama saya menjadi perdana menteri, itu tidak akan terjadi," tegasnya, menyebut pencegahan nuklir Iran sebagai "misi hidupnya".
Tapi pertanyaan yang membuat ruangan konferensi pers itu menegang justru datang dari seorang wartawan: bagaimana dengan target perubahan rezim yang sebelumnya kerap disebut sebagai tujuan strategis Israel? Pemerintahan Iran, faktanya, masih utuh setelah gencatan senjata ditandatangani.
Netanyahu berkelit. Tujuan yang "benar" dari awal, klaimnya, adalah melenyapkan ancaman nuklir dan rudal, bukan menggulingkan rezim. "Itu sama sekali tidak gagal. Saya mendefinisikan tujuan secara berbeda," ujarnya. Soal kapan rezim Iran akan runtuh, ia berfilosofi: "Bisakah saya memberi tahu Anda kapan Uni Soviet akan jatuh? Tidak. Saya tidak bisa."
Di Tel Aviv, jawaban itu disambut dingin.
Naftali Bennett, mantan perdana menteri, langsung menggelar konferensi pers tandingan. Periode Netanyahu ini, katanya, bak trilogi bencana yang berurutan: dimulai dari ketegangan internal yang nyaris membelah negeri, lalu tragedi 7 Oktober, dan kini apa yang ia sebut "kegagalan bersejarah melawan Iran." Bennett bahkan membalik narasi Netanyahu soal pergantian rezim: perubahan di Teheran, katanya, baru mungkin terjadi setelah ada pergantian pemerintahan di Jerusalem terlebih dahulu.
Gadi Eisenkot dari Partai Yashar lebih blunt. Netanyahu, nilainya, seharusnya cukup jujur mengakui bahwa target yang pernah ia umumkan sendiri tidak tercapai. "Akan lebih baik bagi Netanyahu untuk mengatakan, 'Saya salah, saya menetapkan tujuan yang tidak bisa saya capai.' Ini justru akan memberi Netanyahu lebih banyak penghargaan dan rasa hormat," kata Eisenkot, yang juga menuding Netanyahu kini menyangkali pernyataan-pernyataannya sendiri.
Yair Lapid, pemimpin oposisi, menyerang dari sudut berbeda. Inkonsistensi narasi Netanyahu yang dalam periode berbeda pernah menggambarkan Israel sebagai kekuatan yang nyaris mendominasi kawasan, sekaligus sebagai negara yang "satu langkah dari kematian massal," itulah yang ia sorot. "Anda tidak bisa membuat kedua argumen itu," tulis Lapid.
Paling pedas mungkin datang dari Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat. Logikanya sederhana tapi menghantam: kalau Netanyahu menghabiskan sebagian besar karier politiknya melawan ancaman Iran, lalu sekarang mengakui bahwa Israel sempat nyaris hancur, siapa yang sebetulnya gagal? "Kami menghargai kejujurannya," sindir Golan.
Di luar perdebatan domestik, ada pertanyaan yang agaknya belum terjawab. Apakah nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran benar-benar mengunci ambisi nuklir Iran untuk selamanya, atau sekadar membeli waktu? Rezim yang selama puluhan tahun menjadi musuh bebuyutan Israel itu keluar dari konflik dalam kondisi terluka, tapi masih bernapas. Bukan posisi yang ideal bagi seseorang yang mengklaim menghentikan Iran sebagai misi hidupnya.