RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu Mengaku Sengaja Tak Dibangunkan pada 7 O...

Internasional

Netanyahu Mengaku Sengaja Tak Dibangunkan pada 7 Oktober, Buku Baru Ungkap MBZ Sudah Peringatkan 10 Hari Lebih Awal

Dua pengungkapan besar mengguncang narasi resmi Israel soal serangan Hamas 7 Oktober 2023: Netanyahu mengaku sengaja tidak dibangunkan petinggi keamanan, sementara laporan baru menyebut pemimpin UAE telah memperingatkannya secara langsung hampir dua pekan sebelum serangan terjadi.

Netanyahu mengatakan bahwa ia sengaja 'tidak dibangunkan' oleh pasukan keamanan pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023.

Sepuluh hari. Itu jarak antara peringatan langsung dari pemimpin Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed kepada Benjamin Netanyahu, dengan ledakan berdarah yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel pada 7 Oktober 2023. Menurut laporan yang dikutip Haaretz, Netanyahu tidak meneruskan informasi itu ke satu pun petinggi keamanan Israel, apalagi mengambil tindakan.

Dua pengungkapan terbit hampir bersamaan pekan ini, keduanya membuka kembali pertanyaan lama: siapa yang tahu apa, dan kapan? Keduanya mengarah ke satu nama.

Dalam wawancara yang ditayangkan 1 September lalu, Netanyahu menjelaskan mengapa ia tidak dibangunkan pada pagi hari serangan berlangsung. Jawabannya terasa seperti pembelaan diri yang justru berbalik menghantam dirinya sendiri. Ia mengklaim aparat keamanan sengaja tidak membangunkannya karena mereka tahu, sebagai perdana menteri, ia akan langsung memerintahkan seluruh pasukan siaga dan memperingatkan warga di sekitar perbatasan Gaza. Seolah-olah, ia hendak berargumen bahwa sistem justru sengaja melucutinya dari kesempatan bertindak. AFP mencatat Netanyahu tidak menyertakan bukti apa pun untuk mendukung klaim bahwa pengabaian itu disengaja.

Klaim itu muncul hampir bersamaan dengan temuan dari buku baru berjudul "Kidnapped: 843 Days of Abandonment" karya jurnalis Shlomi Eldar dan Ruth Yuval. Disusun berdasarkan wawancara dengan puluhan narasumber senior, termasuk pejabat tinggi Israel dan mancanegara, buku itu mengungkap bahwa MBZ, dalam percakapan telepon berdurasi 45 menit di akhir September 2023, secara pribadi memberi tahu Netanyahu bahwa Hamas sedang merencanakan serangan besar-besaran. Tiga pejabat tinggi asing disebut mengetahui isi percakapan tersebut, termasuk seorang penasihat MBZ yang dikutip langsung dalam laporan itu.

Bagaimana MBZ bisa tahu? Dari sumber yang tidak terduga: Yahya Sinwar sendiri. Pertengahan 2023, Sinwar frustrasi berat karena negosiasi pertukaran tahanan mandek. Hamas saat itu menahan beberapa warga Israel yang masuk Gaza atas kemauan sendiri, ditambah jenazah dua tentara. Sinwar berulang kali mengirim pesan lewat seorang pejabat senior Fatah agar disampaikan ke pihak Israel. Bunyinya eksplisit: "Katakan kepada pihak Israel, jika mereka tidak melangkah maju, saya sedang menyiapkan kejutan besar bagi mereka. Katakan pada mereka untuk bersiap menghadapi gempa bumi."

Peringatan itu mengalir ke MBZ, lalu diteruskan langsung ke Netanyahu. Di situlah rantainya putus.

Kalau laporan ini akurat, Netanyahu menerima peringatan eksplisit dari kepala negara sahabat, lalu tidak meneruskannya ke Mossad, Shin Bet, maupun Kepala Staf Militer. Bukan kelalaian biasa, kalau memang begitu faktanya.

Hingga kini Netanyahu belum merespons tuduhan spesifik dari buku tersebut. Pemerintah Israel juga belum mengeluarkan bantahan resmi atas laporan Haaretz. Komisi investigasi parlemen Israel sejauh ini masih berkutat pada pertanyaan teknis soal kegagalan intelijen, belum menyentuh dimensi politik di level kepala pemerintahan.

Dua narasi yang kini beredar saling bertolak belakang dalam satu hal krusial. Netanyahu mengklaim ia adalah pihak yang sengaja disingkirkan dari rantai komando. Buku itu menuding justru dialah yang memutus rantai tersebut, jauh sebelum serangan terjadi. Salah satu dari keduanya keliru, atau bisa jadi keduanya sekaligus mengandung kebenaran yang tidak nyaman. Pertanyaannya: siapa yang akan mempertanggungjawabkan ini?