Jarang ada mobil keluarga yang dipuji kenyamanannya setara sedan tapi tetap gagal menguasai pasar. Livina L11 masuk kategori itu.
Generasi Livina yang meluncur 2013 ini punya identitas jelas sejak lahir: kenyamanan di atas segalanya. Suspensinya empuk, kaki-kakinya memakai banyak bushing untuk meredam getaran, dan hasilnya terasa langsung. Jalanan kota yang berlubang? Perjalanan panjang lintas kota? Dua-duanya dilahap tanpa banyak keluhan. Di kelas LMPV yang umumnya mengedepankan kapasitas dan kepraktisan, Livina L11 justru bermain di ranah yang berbeda.
Transmisi CVT-nya jadi nilai lebih yang nyata. Waktu itu teknologi ini belum umum di segmen LMPV, sehingga perpindahan tenaga terasa lebih mulus dibanding rival yang masih mengandalkan transmisi konvensional. Buat konsumen yang sehari-hari terjebak macet Jakarta, perbedaannya kerasa.
109 PS dengan torsi 143 Nm. Bukan yang terkuat, memang. Honda Mobilio kala itu mencatatkan 118 PS, sementara Suzuki Ertiga justru di bawah dengan 95 PS. Selisih performa ini, menurut banyak penggunanya, tidak terlalu terasa dalam pemakaian harian. Antar-jemput anak, road trip keluarga, mesinnya tetap memadai.
Soal efisiensi bahan bakar, Livina L11 disebut mampu bersaing dengan Mobilio dan lebih irit ketimbang Ertiga di kelasnya. Angka yang tidak bisa dianggap remeh untuk segmen yang konsumennya sangat menghitung biaya operasional.
Desainnya waktu itu tergolong segar. Headlamp runcing jadi pembeda saat kompetitor masih pakai lampu membulat. Tampang belakang simpel, dan agaknya memang tidak cepat kelihatan usang. Tapi di sinilah masalah pertama muncul: banyak konsumen menganggap perubahannya kurang drastis dari generasi sebelumnya. Kesan "all new" tidak terasa. Di segmen keluarga Indonesia, persepsi macam ini bisa mematikan momentum penjualan sebelum test drive pertama dilakukan.
Livina L11 juga punya catatan yang sulit diabaikan. Tidak ada double blower, padahal ini mobil tiga baris. Penumpang baris ketiga bisa keringatan saat siang terik, yang duduk di depan justru kedinginan. Timpang. Lampu kabin bagian depan pun tidak tersedia. Kerepotan kecil yang terasa besar ketika harus mengais dompet di malam hari.
Tapi kekurangan teknis bukan penyebab utama Livina L11 kalah di pasar. Masalahnya lebih dalam.
Di mata konsumen Indonesia kala itu, Nissan tidak punya kekuatan merek sekuat Honda atau Suzuki di segmen mobil keluarga. Keputusan menghadirkan kembali Datsun juga disebut-sebut ikut menggerus kepercayaan pasar terhadap ekosistem merek Nissan. Jaringan dealer yang makin menyusut memperburuk situasi. Lalu ada isu harga suku cadang yang lebih mahal, sesuatu yang sangat sensitif di segmen ini. Ibarat pedang bermata dua, Nissan ingin memperluas jangkauan lewat Datsun tapi justru memperkeruh citra induknya sendiri.
Ujung ceritanya, Livina L11 dihentikan. Posisinya diisi rebadge Mitsubishi Xpander. Ironis, karena mobil pengganti itu justru datang dari kompetitor yang produknya berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Livina: memberikan kesan benar-benar baru kepada pasar.
Pertanyaannya, apa pelajaran dari kasus ini? Livina L11 jadi pengingat bahwa produk yang bagus secara teknis tidak otomatis menang. Di pasar otomotif Indonesia, branding dan persepsi kadang lebih menentukan daripada spesifikasi. Pahit, tapi begitulah.