RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Perbankan  ›  OJK Cirebon Dorong Industri Keuangan Buka Data unt...

Perbankan

OJK Cirebon Dorong Industri Keuangan Buka Data untuk Sensus Ekonomi 2026

OJK Cirebon mendorong industri jasa keuangan berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026, dengan keyakinan bahwa kualitas data sektor keuangan akan menentukan akurasi peta ekonomi nasional dan efektivitas penyaluran kredit ke depan.

Sensus Ekonomi 2026 bergulir mulai 1 Mei hingga 31 Juli tahun ini. OJK Cirebon tidak ingin industri jasa keuangan di wilayahnya jadi penonton.

Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mendorong seluruh pelaku industri keuangan untuk berpartisipasi aktif dalam pendataan yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS). Alasannya punya implikasi besar: sektor keuangan beririsan langsung dengan pembiayaan, investasi, dan pengembangan usaha di hampir semua skala bisnis, sehingga datanya sangat menentukan kualitas gambaran ekonomi yang dihasilkan.

Bukan sekadar kewajiban administratif.

"Partisipasi aktif industri jasa keuangan dalam memberikan data yang akurat akan sangat menentukan kualitas gambaran ekonomi yang dihasilkan. Data tersebut menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran," ujar Agus, Senin (27/4/2026).

Sensus kali ini menyasar seluruh pelaku usaha non-pertanian, dari skala mikro sampai korporasi besar, mencakup struktur usaha, kondisi permodalan, investasi, hingga daya saing. Yang agaknya membedakan SE2026 dari sensus sebelumnya adalah cakupannya yang lebih luas ke sektor-sektor baru: ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Tiga segmen yang selama ini pertumbuhannya susah dikuantifikasi karena minimnya data terstruktur.

Bagi lembaga keuangan, ini peluang, bukan beban. Data profil usaha yang lebih komprehensif dari hasil sensus memungkinkan bank dan lembaga pembiayaan menyalurkan kredit lebih terukur, terutama ke segmen yang selama ini underserved karena profilnya tidak terbaca dengan baik. Agus menyebutnya berdampak langsung pada efektivitas intermediasi.

"Dengan basis data yang kuat, industri keuangan dapat lebih tepat dalam menilai profil risiko dan kebutuhan pembiayaan pelaku usaha. Ini akan mendorong penyaluran kredit yang lebih produktif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang sehat," katanya.

Untuk menjangkau cakupan seluas itu, BPS akan menerjunkan sekitar 116 ribu petugas lapangan di seluruh Indonesia. Angka yang tidak main-main, dengan target yang sama ambisiusnya: memotret seluruh ekosistem usaha nasional, termasuk sektor informal yang kerap luput dari statistik resmi.

Pertanyaannya, berapa jauh industri mau membuka data? OJK Cirebon menekankan sinergi antara regulator, BPS, dan pelaku industri sebagai kunci. Tanpa keterbukaan dari sisi jasa keuangan, potret ekonomi yang dihasilkan akan pincang. Dan kebijakan yang lahir dari data pincang, entah kebetulan atau tidak, biasanya meleset dari sasaran.