RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  OJK: Sektor Keuangan Solid, tapi IHSG Sudah Amblas...

Bisnis

OJK: Sektor Keuangan Solid, tapi IHSG Sudah Amblas 29% Sejak Awal Tahun

Di tengah tekanan geopolitik Timur Tengah dan suku bunga global yang bertahan tinggi, OJK menyatakan sektor jasa keuangan masih terjaga. Tapi angka-angka di baliknya layak dicermati lebih seksama.

Press Release: March 2026 Board of Commissioners Meeting: Financial Services Sector Stability Remains Maintained Amid Rising Global Uncertainty

IHSG ditutup di level 6.127 pada akhir Mei 2026, terkoreksi 29,14 persen sejak awal tahun. Bukan sekadar statistik buruk. Angka itu cermin dari betapa dalamnya tekanan yang sedang dirasakan pasar modal Indonesia.

Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 26 Mei 2026 menyimpulkan stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menunjuk konflik geopolitik di Timur Tengah sebagai biang kerok utama: harga energi naik, inflasi merembet, dan tekanan suku bunga tinggi bertahan lebih lama dari yang semula diantisipasi. "Konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut dan menyebabkan harga energi naik. Kondisi ini mendorong suku bunga tinggi, higher for longer," kata Friderica dalam konferensi pers daring, Jumat (5/6/2026).

Narasi ketahanan itu ada dasarnya, tapi ada beberapa hal yang perlu dibaca lebih cermat. Surplus neraca perdagangan memang masih ada, tapi mulai menyusut dibanding periode sebelumnya. Inflasi Mei 2026 meningkat seiring tekanan harga energi global, meski OJK mengklaim masih di level terkendali. Aktivitas manufaktur domestik kembali ekspansif, tapi laju pertumbuhannya termoderasi.

Di pasar modal, dinamikanya lebih dramatis. Sepanjang Mei, investor asing membukukan net sell di saham Rp4,10 triliun, jauh lebih rendah dari April yang mencapai Rp17,02 triliun. Di pasar SBN, asing net sell Rp3,70 triliun secara bulanan, sehingga akumulasi net sell ytd sudah tembus Rp15,43 triliun. Yield SBN rata-rata naik 56,22 bps sejak awal tahun, mencerminkan persepsi risiko yang terus meningkat.

Satu sinyal yang agak melegakan: rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham justru melonjak ke Rp22,86 triliun dari Rp18,51 triliun di April. Pasar sedang konsolidasi, bukan stagnan.

Cerita perbankan lebih positif. Kredit tumbuh 9,98 persen yoy per April 2026 menjadi Rp8.755 triliun. Kredit investasi memimpin dengan pertumbuhan 19,48 persen, sementara kredit korporasi tumbuh 15,51 persen. Dana Pihak Ketiga melesat 11,39 persen yoy menembus Rp10.077 triliun. NPL gross terjaga di 2,17 persen dan CAR perbankan tercatat 23,97 persen. Buffer modal yang tidak main-main.

Ada satu tren yang tumbuh senyap tapi cepat. Kredit BNPL perbankan melonjak 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun dengan 31,76 juta rekening. Di segmen perusahaan pembiayaan, BNPL melesat bahkan lebih agresif: 56,92 persen yoy, dengan nilai Rp12,93 triliun. Pindar juga tidak ketinggalan, outstanding-nya tumbuh 26,11 persen yoy menjadi Rp102,07 triliun. Pertumbuhan yang konsisten, kalau data ini bisa dipercaya, ketahanannya baru benar-benar teruji kalau tekanan ekonomi makin dalam.

Satu perkembangan yang mungkin kurang dapat perhatian: AUM industri pengelolaan investasi masih menembus Rp1.049,84 triliun per 29 Mei, meski termoderasi 1 persen secara bulanan. Reksa Dana mencatat net redemption Rp1,77 triliun bulan ini, tapi secara ytd masih net subscription Rp21,61 triliun. Jumlah investor di pasar modal kini mencapai 27,75 juta, tumbuh 36,27 persen ytd dengan penambahan 1,26 juta investor baru hanya di Mei saja. Investor ritel ternyata tidak kabur.

OJK juga merilis sejumlah regulasi baru yang akan mengubah peta industri sekuritas dan manajer investasi. POJK Nomor 3 Tahun 2026 mengelompokkan perusahaan efek ke dalam tiga kategori berdasarkan kapasitas dan permodalan, dengan modal disetor minimum mulai Rp1 miliar hingga Rp110 miliar. POJK Nomor 5 Tahun 2026 menerapkan skema serupa untuk manajer investasi, dengan kewajiban minimum dana kelolaan Rp500 miliar untuk MIKU 1 dan Rp1 triliun untuk MIKU 2. Seleksi alam akan berlangsung, entah kebetulan atau tidak, tepat saat pasar sedang tertekan.

Soal rebalancing MSCI dan FTSE Russell yang sempat mengguncang sentimen, OJK menegaskan itu bagian dari mekanisme review berkala, konsekuensi jangka pendek dari reformasi integritas pasar modal yang sedang berjalan. Pernyataan yang terdengar meyakinkan. Agaknya pelaku pasar butuh bukti lebih dari sekadar narasi.

Fundamental perbankan kuat, kredit tumbuh, investor ritel bertambah. Tapi IHSG minus 29 persen ytd. Pertanyaannya, berapa lama divergensi ini bisa bertahan? Pasar tidak selalu salah.