Sepatbor lebih panjang, celah antarpanel lebih presisi, emblem terpasang di tempatnya. Itulah gambaran singkat unit produksi massal Omoway Omo-X Smart yang kini siap dikirimkan ke tangan konsumen pertamanya, berbeda dari prototipe yang selama ini beredar di kalangan media dan pengunjung pameran.
Omoway Indonesia mematok harga Omo-X Smart mulai Rp46,9 juta, angka yang menempatkannya di segmen kendaraan listrik roda dua dengan fitur di atas entry-level. Bagi yang sudah antre sejak masa pre-order, kabar pengiriman ini agaknya sudah lama ditunggu.
Pujangga, Brand Manager Omoway Indonesia, menegaskan bahwa unit yang akan diterima konsumen bukan sekadar prototipe yang dipoles ulang. Ini versi final, dengan sejumlah revisi yang ia klaim terasa nyata saat dipegang langsung. "Unit yang sekarang sudah merupakan varian yang akan dijual ke konsumen," ungkapnya saat ditemui di BSD City, Tangerang, Senin (15/6/2026).
Peningkatan paling mencolok ada pada kualitas finishing. Sejumlah material mendapat lapisan tambahan, termasuk pada setang dan cover bodi, sehingga tampilan akhirnya lebih solid dan berkesan premium. Celah antarpanel, yang kerap jadi tolok ukur kualitas perakitan di mata konsumen kritis, juga dikerjakan ulang agar lebih presisi.
Area jok ikut dibenahi. Trimming kini tampil lebih rapi, dan tuas pegangan jok belakang sedikit dinaikkan posisinya sekaligus diperlebar, detail kecil yang bisa berdampak cukup nyata pada kenyamanan penumpang.
Perubahan paling besar, menurut Angga, ada di sepatbor depan. Komponen yang di prototipe terkesan pendek itu kini diperpanjang, plus mendapat tambahan lapisan karet di bagian atasnya agar tidak langsung berbenturan dengan komponen lain. "Jadi lebih nyaman dan rapi," katanya.
Dari sisi identitas visual, emblem Omo-X Smart kini resmi terpasang, finishing stiker diperbaiki termasuk di area sistem audio, dan tulisan ABS ditambahkan pada cover pelek. Detail-detail ini mungkin tampak sepele. Tapi justru di sini konsumen biasanya bisa membedakan mana produk yang serius mau dijual dan mana yang masih setengah matang.
Apakah semua penyempurnaan ini cukup untuk meyakinkan pasar yang makin sesak dengan pilihan kendaraan listrik lokal maupun impor? Pertanyaan itu baru bisa dijawab setelah unit benar-benar ada di tangan konsumen dan melewati ujian harian.