Perdamaian belum pernah sedekat sekarang. Kalimat itu bukan retorika kosong, setidaknya menurut Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif, yang pada Jumat memposting pernyataan itu di X sembari mengonfirmasi bahwa Washington dan Teheran sudah mendekati kesepakatan kerangka perdamaian untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari 100 hari.
Pakistan bukan sekadar penonton. Islamabad yang selama ini memimpin jalur mediasi antara dua pihak yang berseteru mengklaim sudah "bekerja sama" dengan keduanya untuk menyelesaikan langkah teknis berikutnya. Bukan peran kecil, mengingat konflik ini juga menutup secara efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang dampaknya terasa jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Dari Teheran, sinyal serupa datang. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut kesepakatan permanen sudah "sangatlah dekat." Araghchi memaparkan bahwa rencana yang dipertimbangkan terdiri dari dua tahap: pertama, nota kesepahaman untuk menghentikan pertempuran termasuk serangan Israel di Lebanon; kedua, perundingan soal program nuklir, pencabutan sanksi, dan pencairan aset Iran. Selat Hormuz, tegasnya, tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman.
Tapi jangan buru-buru optimistis. Araghchi sendiri menekankan nota kesepahaman awal itu masih dalam tahap peninjauan, sembari menyiratkan ketidakpercayaan mendalam terhadap pemerintahan Trump yang sudah dua kali melancarkan serangan ketika perundingan nuklir tengah berjalan. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan memposting pesan yang terasa seperti peringatan keras: "Komitmen yang dibuat haruslah komitmen yang ditepati. Tidak ada alasan, tidak ada alasan. Untuk kesepakatan yang dekat, tidak ada jalan lain."
Dari Washington, seorang pejabat senior AS memilih diksi yang lebih hati-hati, menyebut kesepakatan itu "belum mencapai garis akhir, tetapi kita sudah sangat dekat." Ia mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman akan mencakup keringanan sanksi dan pencairan aset Iran, sebagai imbalan penghentian program nuklir Teheran. Ada syarat yang menggantung: Iran tidak akan langsung menerima apapun setelah penandatanganan, karena pencabutan sanksi dan pencairan dana bergantung penuh pada kepatuhan mereka. Pernyataan itu menggemakan pesan Wakil Presiden JD Vance sebelumnya, yang menegaskan tidak ada aset beku Iran yang segera dilepas setelah kesepakatan awal tercapai.
Sementara diplomasi berjalan, kondisi lapangan jauh dari tenang. Iran melancarkan serangan ke wilayah utara Israel pada Minggu malam, diklaim sebagai respons atas gempuran Israel ke Lebanon yang menargetkan Hizbullah. Israel membalas pada Senin dini hari dengan serangan udara ke wilayah Iran. Trump kemudian turun tangan meminta keduanya berhenti, di tengah laporan memburuknya hubungannya dengan PM Benjamin Netanyahu.
Iran akhirnya mengumumkan penghentian operasi militer terbarunya. Tapi nadanya tidak sepenuhnya menenangkan: jika serangan terhadap Lebanon dilanjutkan, respons berikutnya bisa jauh lebih "menghancurkan." Israel pun mengakhiri serangannya ke Iran, namun tetap menegaskan akan terus memerangi Hizbullah.
Konflik ini berakar dari serangan AS-Israel ke Iran pada Februari lalu yang menewaskan Ayatullah Ali Khamenei beserta puluhan petinggi militer. Lebih dari 3.000 warga sipil Iran turut menjadi korban. Teheran membalas dengan menyerang pangkalan AS di kawasan Teluk dan menutup Selat Hormuz. Gencatan sementara disepakati sejak April, tapi saling serang tidak pernah benar-benar reda.
Apakah kerangka perdamaian ini bertahan atau kembali ambruk di meja negosiasi, agaknya bergantung pada satu hal yang paling langka sepanjang konflik ini. Kepercayaan.