Pemerintah tidak menunggu krisis datang. Senin (7/9/2026), usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman keluar dengan satu pesan tegas: stok dan produksi beras nasional aman, meski El Nino terus menekan.
Rapat itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan beserta sejumlah kementerian dan lembaga terkait. Hasilnya konkret: penambahan alokasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebesar 1 juta ton, disalurkan mulai Oktober hingga Desember 2026 dan berlanjut hingga musim panen berikutnya.
"Kesimpulan semuanya, aman, aman. Produksi dan kebutuhan pangan kita aman," ujar Amran. Pernyataan itu bukan tanpa dasar, tapi juga bukan tanpa konteks. Musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dari biasanya, dan El Nino diperkirakan masih menghantui hingga Maret 2027.
Perum Bulog digandeng langsung untuk mengeksekusi penambahan kuota penyaluran itu. Distribusinya menjangkau ritel modern dan pasar tradisional, supaya beras bersubsidi ini benar-benar sampai ke tangan konsumen dengan harga yang tidak bikin mengelus dada.
Amran merinci empat langkah konkret. Pertama, SPHP ditambah dan beras medium serta premium didorong masuk ke jaringan ritel. Kedua, impor beras pecah atau menir dihentikan. Ketiga, operasi pasar digelar serentak di daerah-daerah. Keempat, bantuan pangan dipercepat penyalurannya.
Zulkifli menegaskan langkah ini sebagai respons langsung terhadap tekanan pasokan yang mulai terendus di pasar. "Untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan: kita tambah suplainya untuk beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP. SPHP medium. Kita tambah lagi tadi 1 juta," kata Zulkifli.
Bagi pelaku pasar komoditas dan investor di sektor konsumsi, dua langkah layak dicermati lebih dekat. Penghentian impor beras pecah dan menir, kalau benar dieksekusi, agaknya akan mengguncang sejumlah pemain di rantai pasok bahan baku industri makanan. Pertanyaannya, seberapa cepat pasar menyesuaikan diri? Sementara penambahan suplai SPHP medium dalam volume sebesar ini bisa jadi penekan yang efektif untuk harga beras eceran, setidaknya itu klaim pemerintah. Di lapangan, ceritanya bisa berbeda.